Pemenang Asia's Next Top Models, Ayu Gani. Foto: Hana Adi Perdana/Jawapos.com

TAMPIL sebagai model tentu mempunyai tuntutan yang tinggi soal penampilan. Tidak hanya itu, mereka juga dituntut untuk selalu tampil eksis dan menarik.

Tuntutan itu akan membuat mereka harus mengeluarkan biaya besar untuk membelanjakan kebutuhannya agar tetap tampil cantik, modis dan eksis tentunya. Puluhan, bahkan ratusan juta bisa melayang begitu saja dari kantong mereka hanya untuk keperluan tersebut.

Hal itu nyatanya tidak berlaku bagi Ayu Lestari Putri Gani. Bagi pemenang Asia’s Next Top Model ini, untuk tetap tampil cantik, modis dan eksis tidak perlu belanja berlebihan dengan biaya yang besar.

Model cantik yang akrab disapa Ayu Gani ini pun membagikan pengalamannya mengubah gaya hidup sebagai shopaholic atau gila belanja, menjadi shopalogic atau belanja dengan ideal.

Saat menapaki karirnya di dunia model profesional, kehidupan Ayu begitu konsumtif. Hal itu dilakukannya agar bisa selalu terlihat cantik dan modis di media sosial. Tidak sampai disitu, belanja bulanannya pun tidak terencana dengan baik.

“Jadi sebenernya awal saya tampil glamour karena selalu dituntut maksimal. Dandanan harus keren, harus eksis, di instagram harus foto-foto, kalau misalnya bajunya sama dikomentarin sama orang-orang instagram, nah dari situ saya menjadi konsumtif, beli beli dan beli cuman buat foto-foto aja,” ujarnya di Jakarta, Rabu (2/8), sebagaimana dilansir JawaPos.com.

Berawal dari situ, wanita kelahiran Surakarta, 25 tahun silam ini mulai merasa gelisah. Dia merasa kehidupannya di dunia model terasa begitu mengganjal.

Hasil kerja kerasnya tak membuahkan hasil apa-apa karena tidak memiliki tabungan dan dibelanjakan untuk hal yang kurang produktif.

Hingga akhirnya, Ayu menemukan cara untuk merubah pola keuangan yang sangat konsumtif menjadi lebih logis. Dia ingin tetap berbelanja dan memiliki tabungan untuk masa depan.

“Saya merasa kok sudah kerja sekian lama nggak punya tabungan dan tidak beli apa-apa. Saya berfikir bagaimana caranya supaya saya bisa tetap nabung belanjanya tetep jalan. Akhirnya saya menemukan cara mengelola uang untuk menjadi kaya itu dalam artian relatif ya, misalnya ada orang punya uang Rp 1 juta sudah kaya, buat saya kalau kaya saya punya tabungan keinginan saya tetap jalan. jadi buat saya itu untuk bisa kaya itu saya harus mengelola uang dengan baik,” terangnya.

Pengelolaan itu dimulai dengan cara menabung dan menahan keinginan untuk berbelanja. Dari hasil keringatnya sendiri, Ayu biasanya menyisihkan 30 persennya. Hasil tabungannya disisihkan untuk keperluan belanja dengan keperluan lainnya.

Dalam kurun waktu tertentu, tabungan itu dikumpulkan. Di waktu yang sudah ditentukan, tabungan belanja itu akan digunakan, namun dengan biaya yang sudah terkumpul. Itu artinya, jika menabung selama satu bulan dan terkumpul sebanyak Rp 2 juta, maka biaya belanja yang digunakan akan lebih teratur.

Dengan demikian, Ayu akan lebih bisa mengatur lagi keperluan belanjanya yang lebih logis karena biaya yang terbatas pada tabungan tersebut.

“Pengelolaan uang saya itu jadi saya tabung dulu, kita tau pendapatan model itu tidak menentu ya, kadang minggu ini ada, bulan depan nggak ada. Nah, jangan sampai pas bulannya blong itu ‘aduh kita nggak punya uang nih harus belanja nih buat even ini’. Jadi saya nabung dulu, saya sisihkan 30 persen pendapatan saya untuk di tabung dan tidak diapa-apakan. Jadi nanti saya belanja punya budget. Tidak seperti sebelumnya saya main asal belanja-belanja aja nggak ada budgetnya. Saat kita punya bajet ini kita jadi lebih bisa mengatur keuangan kita dan kepentingan kain masih bisa terpenuhi,” pungkasnya.
(cr4/JPC)