MERAK – Tergiur mendapatkan penghasilan tambahan, Asep Ridwan (45), sopir bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) ‘Laju Prima’ dengan nomor polisi B 7604 XA, nekat memuat ratusan burung selundupan asal Jambi dengan tujuan Bandung. Asep tak berdaya saat 25 keranjang berisi burung muatannya dalam bagasi bus itu diketahui petugas dan memaksa dirinya harus berurusan dengan polisi, Rabu (22/4/2015).
“Rencananya burung-burung itu mau dikirim ke Bandung. Yang memuatnya, orang paket,” ujarnya singkat usai menjalani pemeriksaan di Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Merak.

Asep mengaku, dirinya tidak mengantongi dokumen apapun dari pengusaha jasa paket maupun pemilik burung ilegal tersebut. Bahkan, dirinya pun mengatakan tidak mengetahui bahwa niatnya mencari rezeki tambahan itu telah melanggar hukum. “Saya gak tahu kalau ini melanggar hukum, soalnya baru kali ini. Saya dapat upah Rp300 ribu untuk mengirimnya (burung ilegal-red),” sambungnya.

Sementara itu, Kepala KSKP Merak AKP Nana Supriatna mengungkapkan, setelah melakukan pemeriksaan terhadap sopir dan kernet bus, burung ilegal itu diketahui dipesan oleh Iwan, di Bandung. “Atas kelalaian dan ketidaktahuan sopir, dirinya dapat dijerat dengan Undang Undang nomor 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan. Karena kita tidak memilki kandang, tenaga ahli, ataupun laboratorium maka burung-burung ilegal ini selanjutnya akan kita limpahkan ke Balai Karantina. Burung-burung ini tidak termasuk jenis yang dilindungi, boleh diperdagangkan, asal ada sertifikat dari Balai Karantina di daerah asal burung,” katanya. (Devi Krisna)