Terlalu Manja, Langsung Deh Ditalak Tiga (Bag 2)

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Nah, usai menikah, orangtua Cinot meminta Tole membawa anaknya tinggal di rumah Tole. Alasannya karena rumah Cinot terlalu kecil dan tidak memiliki kamar ekstra untuk Tole dan Cinot. “Selama ini Cinot tidur dengan kedua kakaknya. Karena tidak ada kamar lagi akhirnya mertua minta kami tinggal di rumah saya,” jelas Tole.

Baca sebelumnya: Terlalu Manja, Langsung Deh Ditalak Tiga (Bag 1)

Tole sendiri belum punya rumah, ia masih hidup satu atap dengan orangtua dan saudara-saudaranya. Hanya saja di rumah Tole ada kamar yang bisa digunakan, yakni tidak lain kamar Tole sendiri. “Kalau saya memang punya kamar. Tidak tidur bersama kakak dan adik,” terangnya.

Karena itulah Tole mengajak Cinot tinggal di rumahnya. Ternyata keputusan tersebut merupakan hal buruk untuk Cinot. Wanita yang selama hidupnya terbiasa dimanja, tidak bisa beradaptasi di tempat baru. Gara-gara itu, Cinot menjadi canggung tinggal di rumah Tole. “Cinot tidak bisa akrab dengan kakak perempuan saya, juga dengan orangtua. Dia juga enggak mampu ambil simpati mereka,” tutur Tole.

Penyebab Cinot sulit adaptasi, karena ia tidak bisa melakukan hal-hal selayaknya seorang istri. Seperti memasak, mencuci, membersihkan lantai, dan sebagainya. Ketidakmampuannya menjadi istri yang baik menimbulkan rasa malu yang luar biasa besar. Inilah yang menjadi penyebab utama Cinot tidak ingin ditinggal sendirian di rumah.

Kondisi ini bertahan selama delapan tahun. Meskipun pasangan ini sudah menghasilkan empat anak, namun rasa canggung Cinot tidak kunjung hilang. Sempat pada suatu hari, Tole memaksa Cinot untuk merelakannya pergi mencari kerja ke Jakarta. Respons Cinot, ia menangis meraung-raung sambil menarik tangan Tole agar tidak pergi.

Lalu, bagaimana Tole bisa memberi makan empat anaknya itu? Kenyataannya, tidak bisa. Pasangan ini selama berumah tangga mengharapkan kemurahan hati Odeng (38), nama samaran kakak Tole. Pasangan ini setiap bulan disubsidi Odeng yang juga tinggal satu atap dengan mereka. “Saya malu, bertahun-tahun beli susu dan perlengkapan bayi dari Kak Odeng,” aku Tole.

Lucunya, Cinot jadi keenakan selalu diberi subsidi. Sehingga dia menilai Tole tidak perlu bekerja selama masih ada Odeng. Pola pikir Cinot lambat laun mulai tidak disukai. Bahkan paling parah, ada sebuah pemikiran dari Cinot untuk bisa menguasai rumah yang tengah mereka tinggali. “Cinot bilang, pokoknya jangan keluar dari rumah. Biar nanti kalau ayah saya meninggal, rumah bisa diwariskan kami,” tutur Tole.

What? Bisa-bisanya Cinot berpikir seperti itu. Gara-gara hal tersebut Tole marah besar. Keluarlah sebuah kalimat seperti dalam lagu yang dipopulerkan Bungsu Bandung. “Talak tilu sakalian!!” kata Tole saat itu.

Tole menalak tiga Cinot, artinya mereka bisa bersatu kembali hanya bila keduanya telah terlebih dahulu menikah dengan orang lain. “Kesalahan Cinot terlalu parah. Saya tidak suka dengan apa yang dia pikirkan. Karenanya saya talak tiga, itu yang paling tepat untuk dia,” katanya. (RB/quy/zee)