Kendati hasil Ujian Nasional yang dilakukan siswa tidak menjadi indikator kelulusan, Dinas Pendidikan Provinsi Banten tetap memberikan perhatian serius terhadap pelaksanaan UN di Provinsi Banten. Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten, Engkos Kosasih Samanhudi.

Menurut Engkos, pelaksanaan UN merupakan salah satu acara untuk mengetahui sejauh mana efektifitas proses belajar mengajar yang berlaku di masing-masing Sekolah Menengah Atas (SMA) yang ada di Provinsi Banten. Selain itu, pelaksanaan UN pun sebagai salah satu cara untuk mengevaluasi lembaga pendidikan sekaligus proses belajar mengajar yang berlaku di SMA tersebut.

“Memang tahun ini UN sudah tidak menjadi penentu kelulusan, kelulusan ditentukan oleh masing-masing sekolah, namun bagaimanapun UN masih mempunyai peranan besar dalam dunia pendidikan, karenanya kita tetap memberikan perhatian serius terhadap pelaksanaan UN tersebut,” katanya.

Pelaksanaan UN SMA di Banten sendiri tahun ini menunjukan perkembangan yang sangat baik. Misalnya jumlah sekolah SMA yang melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang semakin meningkat.

Berdasarkan data di Dinas Pendidikan Provinsi Banten, jumlah peserta UN tingkat SMA 49.234 siswa dan SMK 64.668 siswa. Sementara peserta UN di Madrasah Aliyah mencapai 17.107 siswa. Sementara sekolah yang melaksanakan UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) di Provinsi Banten berjumlah 128 sekolah, dengan rincian tingkat SMA sebanyak 38 sekolah dan SMK 65 sekolah. Untuk Kota Serang sebanyak 5 sekolah, Kota Tangerang 8 sekolah, Kota Tangsel 31 sekolah, Kab Tangerang 23 sekolah, Kota Cilegon 4 sekolah, Kab Lebak 8 sekolah, Kab Serang 10 sekolah dan Kab Pandeglang 14 sekolah.

Salah satu bentuk perhatian pemerintah Provinsi Banten terhadap UN SMA, menurut Engkos dilihat dari sikap Gubernur Banten Rano Karno. Pelaksanaan hari pertama UN tahun ajaran 2015-2016 di Provinsi Banten dipantau langsung oleh Gubernur Banten Rano Karno, Gubernur memantau pelaksanaan UN Berbasis Komputer (UNBK) di SMAN 7 Tangsel di Kecamatan Serpong Utara. Gubernur didampingi Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany, dirinya dan sejumlah pejabat di lingkungan Pemkot Tangsel.

Dalam suatu kesempatan, Gubernur Banten Rano Karno mengatakan, pelaksanaan UNBK yang kedua kalinya diterapkan di Provinsi Banten khususnya di Kota Tangsel tidak ada kendala. Baik dari sarana dan prasarana serta pendistribusian soal ke seluruh wilayah. “Ini tahun kedua ujian menggunakan komputer, artinya kita sudah siap. Dengan sistem ini (UNBK) suatu saat semua akan menggunakannya. Jadi memang ini transisi dari paper yang akan berganti pada sistem komputer,” kata Gubernur.

Rano berharap dengan sistem ujian yang semakin mengikuti perkembangan teknologi dan pola pendidikan di Provinsi Banten yang tersebut ditingkatkan, bisa lahir lulusan-lulusan SMA yang memiliki kompetensi dan daya saing.

Memiliki kompetensi dan daya saing sudah menjadi keharusan dimiliki oleh seluruh generasi penerus bangsa mengingat persaingan saat ini sudah sangat ketat. Terlebih dengan akan masuknya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang benar-benar menuntut kompetensi dan daya saing yang tinggi.

Karena itu, seperti yang diungkapkan oleh Engkos, sebagai salah satu ajang evaluasi pola pendidikan maka UN SMA tetap perlu mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah Provinsi Banten. “Dengan ditinjau langsung oleh saya, saya bisa lebih tahu apa saja kekurangan pelaksanaan UN tahun ini, sehingga tahun depan kekurangan tersebut tidak kembali terjadi,” paparnya.

Sementara itu, Walikota Tangsel, Airin Rachmi Diany memaparkan, peserta UN di Tangsel meningkat cukup signifikan. Pasalnya, tahun lalu hanya ada tiga sekolah yang menerapkan ujian nasional berbasis komputer tersebut. “Kami Pemkot Tangsel mendorong untuk meningkatkan jumlah sekolah yang menggelar. Tahun lalu hanya tiga sekolah, sekarang ada 27 sekolah,” tuturnya.

Menurutnya, UNBK jauh memberikan banyak nilai positif ketimbang ujian konvensional dengan kertas. Selain lebih efektif, tindak kecurangan juga bisa diminimalisasi dan lebih praktis. “Proses ujian sangat penting. Sarana dan prasarana harus mendukung. UN ini berpengaruh terhadap mutu pendidikan anak-anak kita,” paparnya.

Ke depan, dia berharap lebih banyak lagi sekolah yang menerapkan UNBK. Di samping itu, saat ini UN tidak sebagai syarat kelulusan sehingga hasilnya bisa digunakan untuk mengevaluasi mutu pendidikan, khususnya di Tangsel. (ADVERTORIAL/Dinas Pendidikan Provinsi Banten)

BAGIKAN