Tiga perempuan yang masih muda ditangkap Resmob Polres Banyuwangi. Mereka diketahui sebagai perampok spesialis rumah kosong. Tiga perempuan yang rata-rata berusia 20 tahun itu tidak ditangkap secara bersamaan. Dua perempuan yang memang satu ”tim”, yakni Firda Fibriani, 21, dan Dita Novita, 27, lebih dahulu ditangkap. Kemarin (29/4) giliran Maesaro, 23, yang diamankan.

Maesaro, warga Lingkungan Kerobokan, Kelurahan Kampung Mandar, Banyuwangi, ditangkap setelah menggarong rumah Sudarman, 32, warga Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Kabat.

Perempuan yang pernah ditahan karena aksi serupa itu menggasak perhiasan emas milik korban sekitar 20 gram, 1 unit kamera digital, 3 unit handphone, dan uang tunai Rp 2,5 juta.

Di hadapan polisi, Maesaro mengaku secara terus terang terkait dengan semua perbuatannya. Dia mengaku terpaksa mengambil barang berharga milik orang lain demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Polisi tidak begitu percaya dengan pengakuan Maesaro.

Hasil pemeriksaan diketahui, pelaku sempat menjual beberapa perhiasan hasil kejahatannya. Lalu, uang hasil penjualan itu digunakan untuk membeli perhiasan baru.

Modus yang dipakai adalah mencongkel jendela rumah yang kosong dengan obeng. Modus serupa dilakukan Firda dan Dita. Firda tercatat warga Singotrunan RT 05, RW 03. Sementara itu, Dita Novita adalah warga Jalan Bunyu Nomor 14, Kelurahan Lateng, Banyuwangi. Dari tangan keduanya, diamankan sejumlah barang bukti berupa HP, dompet, buku tabungan, perhiasan emas, dan satu unit laptop.

Sebelum beraksi, pelaku memantau rumah kosong yang dijadikan sasaran. Firda dan Dita yang memang bekerja sama membobol rumah Pri Wahyudi, anggota Samsat Polres Banyuwangi, di Singotrunan. Keduanya mengembat dua kalung emas dan dua gelang. Kerugian ditaksir sekitar Rp 50 juta. Di rumah lain di Singotrunan, keduanya menggondol uang Rp 35 juta, perhiasan, dan batu akik dari Makkah.

Kapolres Banyuwangi AKBP Tri Bisono Soemiharso menuturkan, Maesaro dan dua pelaku sebelumnya (Firda dan Dita) tidak berkaitan. Mereka menjalankan aksi sendiri-sendiri. Firda dan Dita juga tidak pernah memiliki catatan kejahatan sebelumnya. ”Mungkin ada pemantauan sebelumnya. Sebab, tanpa itu, mustahil rasanya bisa tahu kondisi di lapangan,” ujarnya. (nic/c1/aif/JPNN/c19/any)