Aroma durian menyeruak dari aula terbuka Kantor Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Provinsi Banten, Selasa (7/4/2015). Ratusan durian sudah siap pentas dalam Festival Durian Banten 1. Beragam macam jenis dan ukuran durian lokal tampak tidak kalah saing dengan durian impor, mulai dari ukuran kecil hingga durian berukuran 7 kilogram dari Gunungsari, Kabupaten Serang.

Dita, peserta kontes durian dari Distanak Kabupaten Serang, mengatakan bahwa durian lokal punya banyak ciri khas yang tak kalah dengan durian impor. “Rasa manisnya lebih kuat. Dagingnya lebih gurih dan kesat. Kandungan air di dalamnya beda dibanding produk durian dari luar,” ujar Dita saat menjelaskan jenis durian Sorung di meja stand-nya, Selasa (7/4/2015).

Selain Sorung, jenis durian Jangkung, dan Rampayek juga tampak mewarnai stand para peserta kontes durian. Dari sekian banyak stand, yang paling tampak menyolok, durian Bangkok yang berukuran 7 kilogram yang berada di atas stand. “Ini bukan yang paling besar, tapi masih ada lagi durian yang lebih besar. Tapi kelemahan durian ini terlalu banyak mengandung air,” jelasnya.

Acara ini merupakan kegiatan promosi buah durian lokal Banten yang kini mulai tergeser dari pasar buah akibat banyaknya durian impor yang masuk ke pasar buah lokal.

Seorang pengunjung berkebangsan Prancis, Antoine mengaku sangat menyukai durian. “Saya sangat suka durian, walau pun banyak yang bilang baunya busuk. Sayangnya saya tidak bisa bawa durian ke pesawat. Saya hanya makan durian di sini saja tidak bisa bawa pulang ke Perancis,” jelasnya.

Di Prancis sendiri, menurut Antoine, durian digemari namun dalam bentuk ekstrak menjadi es krim dan makanan lainnya. “Yah ada tapi dalam bentuk makanan. Bukan buah durian langsung. Cuma di Indonesia saya bisa nikmati durian. Ke beberapa tempat saya pasti coba durian lokal,” jelasnya. (Wahyudin)