Polisi saat mengitograsi pasangan yang diarak warga sambil telanjang

TANGERANG – Jagad media sosial kembali digemparkan video penggerebekan sepasang kekasih di sebuah kontrakan di Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang. Video yang santer beredar sejak Sabtu (11/11) ini menjadi viral. Dalam video berdurasi empat menit itu, memperlihatkan adegan dua pasangan sejoli tengah diinterogasi di sebuah kontrakan di Kampung Kadu RT 07, RW 03, Kelurahan Sukamulya Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang.

Tak berapa lama kemudian, pasangan itu yakni R (28) dan M (20) digiring warga tanpa busana. Sang wanita menangis. Sementara si pria tertunduk dan menghindari pukulan warga. Kejadian terjadi sekira pukul 22.30 WIB hingga akhirnya berhasil diamankan pihak berwajib.

Pasangan ini diarak, karena dituduh telah berbuat mesum di dalam kontrakan milik Helmi tersebut. Mereka ada yang melakukan selfie dan mempermalukan kekasih tersebut dengan caci maki.

Mereka digiring ke rumah Ketua RW selama satu jam lebih. Setelah dibawa ke rumah RW, korban diperbolehkan kembali ke kontrakan. Keluarga korban pun akhirnya datang menjemput.

Viralnya video tersebut, membuat jajaran Polresta Tangerang bertindak cepat. Setelah melakukan penyelidikan, petugas mengamankan tiga terduga pelaku yang menjadi dalang dalam aksi penganiayaan tersebut, Senin (13/11). Mereka juga merupakan orang di balik aksi penganiayaan tersebut.

Kapolresta Tangerang AKBP M Sabilul Alif mengatakan, ketiga orang yang diamankan masing-masing berinisial G (41), T (44) dan A (37). Ketiganya yakni Ketua RW dan dua warga sekitar yang ikut menggerebek kontrakan bercat coklat kuning tersebut.
”Saya tegaskan, apa pun alasannya, tindak kekerasan tidak bisa dibenarkan. Kita negara hukum, segala permasalahan diselesaikan melalui prosedur. Bukan main hakim sendiri,” ujar Sabilul saat meninjau kontrakan tempat terjadinya aksi bejat tersebut.

Kepada Lurah Sukamulya dan jajaran perangkat RT dan RW, Sabilul mengatakan, hal tersebut tidak boleh terjadi. ”Tidak boleh main hakim sendiri. Harusnya kejadian seperti itu dilaporkan kepada kepala desa atau kepolisian untuk ditindaklanjuti,” tegasnya. (gar/asp/sub)

BAGIKAN