Warga Wates Telu Tinggal Sebatang Kara di Bekas Kandang Kambing

Suharyono (kiri) saat dikunjungi anggota DPRD Cilegon Rahmatulloh, di kediamannya di Lingkungan Wates Telu, Kelurahan Purwakarta, Kecamatan Purwakarta, Selasa (5/12).

Jalan hidup tidak ada yang tahu. Itulah yang kini dialami Suharyono warga Lingkungan Wates Telu, Kelurahan Purwakarta, Kecamatan Purwakarta yang kini hidup sebatang kara di bekas kandang kambing.

KHOIRUL UMAM – PURWAKARTA

Suharyono lahir di Jogjakarta, 67 tahun yang lalu. Meski demikian, ia telah merantau di Kota Cilegon ketika berusia 17 tahun. Suharyono tidak pernah menyangka jika nasibnya tidak semulus yang ia bayangkan. Tinggal di bekas kandang kambing yang terbuat dari bambu dengan luas 2×3 meter persegi seorang diri.

Dia tinggal di tempat tersebut sejak empat tahun lalu setelah rumahnya di Lingkungan Kaligandu, Kelurahan Purwakarta, dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dan untuk membayar utangnya. Hingga akhirnya harta yang dimiliki habis tak tersisa lantaran ia sudah tidak lagi bekerja karena usia semakin senja.

Ketika sudah tak lagi mampu mencari penghasilan sebagai buruh harian di salah satu perusahaan subkontrak PT Krakatau Steel (KS), ia malah ditinggal istri dan anak satu-satunya sejak 14 tahun yang lalu. “Sekarang napas saya sudah megap-megap. Jadi sudah tidak sanggup lagi bekerja untuk mencari penghasilan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” tutur Suharyono yang akrab disapa Mas Pagi ini.

Meski harus tinggal di bekas kandang kambing, ia tak pernah mengeluh karena hal itu harus dihadapinya untuk menjalani sisa hidup. Untuk bisa makan sehari-hari mengandalkan belas kasihan para tetangga. Termasuk sering main ke rumah salah satu anggota Dewan yang berasal dari dapil Purwakarta, Rahmatullah.

Tinggal di bekas kandang kambing bukan berarti tidak ada kendala. Dengan rumah terbuat dari bambu dan kayu serta asbes alakadarnya, ketika hujan deras disertai angin kencang, ia sering tidak istirahat dengan nyaman. Ini lantaran atap yang terbuat dari asbes seadanya sering tempias.

Laki-laki yang sudah mulai renta ini bukannya tak punya harapan. Ia selalu berharap ada perhatian dari pemerintah setempat. “Ya harapannya ada perhatian dari pemerintah agar bisa dikasih tempat tinggal yang layak. Walaupun kecil tapi tanahnya punya sendiri. Kalau ini kan tanahnya punya saudara. Beruntung masih ada saudara yang peduli,” ujarnya.

Sementara Rahmatullah selaku wakil rakyat mengaku merasa prihatin dengan kondisi Mas Pagi. “Saya sangat miris sekali. Di tengah ingar-bingar dan gegap gempita pembangunan Cilegon, ternyata ada warga kita yang mengalami nasib yang malang,” tutur politikus Demokrat ini.

Sebagai wakil rakyat, Rahmatullah mengaku akan mengupayakan bantuan untuk Suharyono. Ia akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial (Dinsos) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Cilegon agar bisa memberikan bantuan untuk Suharyono. Ia juga akan berkoordinasi dengan dinas terkait yang bisa membantu Suharyono. Bahkan ia sendiri sudah berkoordinasi dengan Sekda dan Plt Walikota.

Paling tidak, nanti dari pemerintah bisa membantu semampunya. Apakah tempat tinggalnya atau dengan makan sehari-harinya. “Ini butuh penanganan cepat karena ini bukan kambing, tapi manusia. Jadi harus secepatnya ditanggulangi dan jangan sampai dibiarkan,” imbuhnya. (*)

BAGIKAN