Peserta latihan kerajinan tangan di Dompet Dhuafa.

CILEGON –  Bisnis kerajinan tangan tak bisa dianggap remeh. Bahkan, bisnis kreatif ini dinilai mampu bersaing di pasar bebas, terlebih seiring dengan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). MEA akan membuka pintu kompetisi bisnis yang semakin lebar,di mana para pemainnya bukan lagi dari negeri sendiri, namun dari mancanegara.

Sadar akan tantangan ini, lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa Cabang Banten meluncurkan program Saung Keterampilan Usaha (SAKU), sebagai salah satu upaya mempersiapkan masyakat dhuafa agar lebih siap menghadapi MEA. Pelatihan dilaksanakan setiap hari Selasa dan Kamis pukul 13.30-17.00 WIB di kantor layanan program Dompet Dhuafa Banten, di Jalan Jendral Ahmad Yani No. 12F, Cilegon.

“MEA menjadi tantangan berat kita, terlebih bagi masyarakat kelas bawah. Sehingga kreativitas menjadi hal yang penting untuk dikedepankan dalam menghadapi persaingan pasar bebas ini. Di program SAKU, masyarakat dhuafa kita berikan pelatihan membuat aneka produk sederhana namun memiliki nilai jual yang bisa bersaing,” ujar Manajer Program Dompet Dhuafa Banten Mokhlas Pidono melalui siaran pers.

Sebagai bentuk keseriusan dalam membantu dhuafa agar lebih berdaya menghadapi MEA, lewat program SAKU, Dompet Dhuafa Banten menghadirkan pelaku usaha kerajinan tangan yang telah sukses sebagai pendamping langsung.

“Para penerima manfaat akan dilatih langsung oleh Umi Anis, pengusaha kerajinan tangan yang telah sukses membawa nama Banten ke tingkat nasional,” kata Mokhlas.

Untuk mengikuti pelatihan gratis ini, Dompet Dhuafa Banten memberikan beberapa kriteria yang mesti dipenuhi oleh peserta.

“Untuk jadi peserta ada beberapa kriteria. Pertama, tentunya harus muslim karena program ini didanai dari dana zakat, infak, dan sedekah,” ujar pendamping program SAKU, Kholiyah, di kantor lananan program Dompet Dhuafa Banten, Cilegon, Kamis (18/2/12016).

Selain itu, peserta harus berkomitmen dan sungguh-sungguh mengikuti pelatihan.
“Kami akan mendampingi penerima manfaat sampai benar-benar bisa. Jadi para pesertanya memang harus yang bersungguh-sungguh,” pungkas Kholiyah.
(Aas)