10 Tahun Idap Gagal Ginjal, Semua Biaya Ditanggung JKN-KIS

SERANG – Jumrono, salah satu pensiunan PNS yang kini berusia 57 tahun yang tinggal di Kampung Kadualung Cinangraya, Kecamatan Serang, ini tak pernah menyangka hadirnya Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) telah membantu keberlangsungan hidupnya selama ini.

Selama 10 tahun, dirinya mengidap penyakit yang berawal dari asam urat dan darah tinggi kemudian bertambah parah hingga gagal ginjal.

“Awalnya ayah saya pakai Askes, yang saat ini sudah berganti nama menjadi BPJS Kesehatan. Dan alhamdulillah, ayah saya selama 10 tahun melakukan cuci darah rutin selama dua minggu sekali itu bebas biaya dan semua ditanggung oleh BPJS. Namun saat ini ayah saya beralih untuk melakukan terapi Continuous Ambulatory Peritonial Dialysis (CAPD), dan semua itu juga ditanggung oleh BPJS,” kata Aan, salah satu anak laki-laki Jumrono, saat ditemui di Rumah Sakit dr Drajat Prawiranegara, Kota Serang, Kamis (4/5).

Lebih lanjut ia mengatakan, peran BPJS Kesehatan dalam membantu kesehatan ayahnya juga sangat berpengaruh pada keuangan keluarganya. “Saya enggak tahu bagaimana kalau tidak ada BPJS yang bantu (menyembuhkan) penyakit ayah saya, mungkin saya juga pusing mencari dana untuk satu kali melakukan CAPD dan cuci darah,” ujarnya.

Bayangkan, begitu terbantunya masyarakat peserta BPJS Kesehatan, dimana setiap kali melakukan terapi cuci darah selama dua minggu sekali bahkan terapi CAPD satu bulan sekali, membutuhkan biaya yang sangat menguras kantung.

Verifikator BPJS Kesehatan Rumah Sakit dr Drajat Prawiranegara, Resti mengungkapkan, CAPD merupakan cairan yang digunakan untuk penderita gagal ginjal. Yang biasanya untuk penderita gagal ginjal yang sudah stadium akhir.

“Cairan CAPD itu nanti dimasukkan ke alat yang dipasangkan di perut, yang dicuci menggunakan cairan setiap bulan yang dapat dikerjakan sendiri di rumah. Kalau cuci darah dua minggu sekali, nah kalau CAPD satu bulan sekali. Namun biasanya tidak semua penderita gagal ginjal yang dapat melakukan terapi CAPD, harus dokter yang sudah memungkinkan untuk dipasangkan CAPD,” jelasnya.

Kendati demikian, proses penggunaan terapi CAPD sendiri masih terbilang cukup mahal. “Kalau tarif yang ditetapkan Permenkes Rp7,5 juta itu yang ditanggung oleh BPJS, namun kalau umum bisanya lebih dari itu, sedangkan untuk biaya cuci darah berkisar Rp800 ribu hingga Rp1 juta. Dan saat ini pengguna CAPD yang terdaftar di RS dr Drajat Prawiranegara sudah enam pasien yang menggunakan BPJS,” ungkapnya. (ADVERTORIAL/BPJS KESEHATAN)