10 Tahun Jalan di Kecamatan Ciruas Tak Diperbaiki

0
921 views

CIRUAS – Para perajin gerabah di Desa Bumijaya, Kecamatan Ciruas, menyesalkan kondisi jalan di desanya. Kondisi jalan kabupaten yang rusak tersebut dinilai mengganggu aktivitas produksi gerabah Banten yang sudah mendunia ini.

Pantauan Radar Banten, kondisi jalan di Desa Bumijaya saat ini banyak lubang dan bergelombang. Selain itu, aspal jalan pun nyaris tak terlihat karena tertutup oleh lumpur. Menurut koordinator perajin gerabah Suhaemi, kondisi jalan tersebut sudah lama terjadi dan mengganggu aktivitas dan merugikan warga setempat yang mayoritas berprofesi sebagai perajin gerabah. “Jelas mengganggu, produksi jadi terkendala,” katanya kepada Radar Banten, Sabtu (18/2).

Suhaemi mengatakan, akses jalan yang baik menjadi kebutuhan utama masyarakat setempat karena dinilai penting keberadaannya. “Kalau hujan, memang suka becek. Untuk mengangkut gerabah juga, kan susah,” ujarnya.

Ia mengatakan, kondisi jalan rusak tersebut tidak hanya menjadi penghambat para perajin gerabah saja, tetapi juga dikeluhkan oleh masyarakat umum. “Bahkan, di sini pernah banjir karena jalan rusak dan irigasi yang sudah tidak baik,” tuturnya.

Kepala Desa Bumijaya Anas Yusron membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, jalan di Desa Bumijaya terakhir kali mendapatkan perbaikan sepuluh tahun yang lalu. “Ini termasuknya jalan kabupaten, mau pakai dana desa bukan alokasinya,” katanya.

Diakui Anas, pihaknya sudah sering mengajukan perbaikan kepada pemerintah terkait kondisi jalan dan irigasi yang rusak. Namun, hingga saat ini belum ada realisasinya. “Informasinya sih tahun ini mulai dianggarkan, semoga saja,” ujarnya.

Dikatakan Anas, di Desa Bumijaya terdapat 350 perajin gerabah. Oleh karena itu, kata dia, Gerabah Banten menjadi salah satu kekuatan ekonomi masyarakat setempat. “Ini harus diperhatikan oleh pemerintah,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Kecamatan Ciruas Heri Sosiawan mengaku sudah merencanakan pembangunan di Desa Bumijaya pada musyawarah perencanaan pembangunan tingkat kecamatan. “Nanti tinggal di musyawarahkan di tingkat kabupaten,” katanya.

Ia mengatakan, perbaikan infrastruktur di Desa Bumijaya dinilai penting karena merupakan salah satu upaya pengembangan potensi masyarakat. “Karena di Bumijaya itu pusat industri gerabah, para perajin itu harus kita fasilitasi agar lebih berkembang,” ujarnya.

Di tempat lain, soal kerusakan jalan juga dikeluhkan warga Kampung Rancasumur, Desa Sindangsari, Kecamatan Pabuaran. Sepanjang jalan menuju kawasan perajin sepatu dan sandal lokal Kabupaten Serang itu, juga sulit dilewati kendaraan. Pantauan Radar Banten, Minggu (19/2), sepanjang jalan tampak licin dan banyak lubang jalan cukup dalam. Bahkan, sebagian jalan mirip kubangan kerbau karena digenangi air sisa guyuran hujan. Kondisi itu menyebabkan pengendara yang melintas terlihat ekstra hati-hati berkendara. Terutama, pengendara motor.

Menurut Jumri, warga setempat, jalan sudah lama tidak tersentuh perbaikan atau sekadar pengaspalan sehingga kondisi jalan rusak parah. Lantaran itu, kondisinya jalan menyulitkan setiap pengendara yang melintas. “Kalau hujan, jalan berlumpur sehingga membuat ban kendaraan sering slip. Kalau dibiarkan terus, takutnya ada korban. Saya harap jalan bisa segera diperbaiki,”  harapnya.

Kepala Sub Bagian (Kasubag) Umum dan Kepegawaian Kecamatan Pabuaran Ardi Kurnia Dinata membenarkan soal jalan kerusakan jalan di Kampung Rancasumur menuju ke Jalan Kepandean, Kota Serang, yang kerap dikeluhkan warga tersebut. Katanya, sudah sekira sepuluh tahun jalan belum ada perbaikan. “Jalan itu sebetulnya jalan lingkar poros desa. Jadi sangat luas sekitar tiga kilometeran. Jadi, enggak bisa hanya mengandalkan dana desa. Harus dibantu anggaran lainnya,” terangnya. (Rozak-Nizar S/Radar Banten)

JALAN BERLUBANG: Seorang pengendara motor melintasi jalan berlubang yang tergenang di Kampung Rancasumur, Desa Sindangsari, Kecamatan Pabuaran, Minggu (19/2).