12 Warga Banten Jadi Korban

0
1865
Petugas siaga 24 jam pada posko Crisis Center di Bandara Soetta.

Pihak Sriwijaya Air Klaim Layak Terbang

SERANG – Sebanyak 12 warga Banten terdata berada di pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang hilang kontak pada Sabtu (9/1). Pihak keluarga diminta untuk mendatangi Crisis Center Bandara Soekarno -Hatta (Soetta), Tangerang, atau Bandara Supadio Pontianak untuk melakukan tes DNA guna keperluan identifikasi korban.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, ke-12 warga Banten  terdiri atas empat kru dan delapan penumpang. Berdasarkan data manifest mereka adalah kru pesawat Dhika asal Kota Tangerang dan kru pesawat Mia Tresetyani (P) Kabupaten Tangerang, dan Xtra Crew (XCU) Isti Yudha Prastika (P) dan FA Grislend Gloria Natalies (P).

Kemudian, Arneta Fauzia (P), Fao Nuntius Zai (L),  Zurisya Zuar Zai (P), dan Umbu Kristin Zai (P) berasal dari Kota Serang. Kemudian ada Rusni (P), daerah asal hanya disebut Banten,  Rahmana Ekanada (P) Kota Tangerang Selatan. Selanjutnya, Iskandar (L) asal hanya tertulis Tangerang serta Nelly (P) Kabupaten Tangerang. 

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Banten Tri Nurtopo membenarkan daftar nama manifest tersebut. “Kami bersama PT Jasa Raharja sedang melakukan pengecekan secara langsung ke domisili korban dan keluarganya,” ujarnya, Minggu (10/1).

Ia mengatakan, PT Jasa Raharja juga sedang crosscheck lapangan untuk pemberian santunan.

Sementara itu, Sekretaris Dishub Provinsi Banten, Herdi Jauhari mengatakan, pihaknya tak ikut menurunkan personel untuk pencairan korban Sriwijaya Air. Operasi pencarian kini ditangani oleh Basarnas, TNI, dan Polri.

Kata dia, pencarian warga Banten bersamaan dengan penumpang SJ-182 lainnya oleh Basarnas dan lain-lain. Terkait peristiwa kecelakaan pesawat  keluarga diimbau untuk datang ke bandara keberangkatan maupun kedatangan Sriwijaya Air SJ-182. “Untuk kepentingan identifikasi mengingat korban yang ditemukan sebagian besar dalam keadaan tidak utuh,” terangnya.

Ia mengatakan, sehubungan dengan banyaknya korban yang tidak utuh maka orangtua atau saudara kandungnya diminta datang ke Crisis Center di Bandara Soetta atau di Bandara Supadio Pontianak untuk tes DNA.

CRISIC CENTER SIAP TERIMA ADUAN

Sementara itu, pasca terjadinya kecelakaan pesawat terbang Sriwijaya Air Sj-182, pihak Bandara Soetta membuka posko Crisis Center yang berada di Terminal 2D untuk informasi bagi keluarga korban.

Posko Crisis Center melibatkan TNI, Polri, PT Angkasa Pura II, Avsec, PMI Kota Tangerang dan pihak Sriwjaya untuk membantu keluarga korban yang mencari tahu informasi keluarga yang menjadi korban kecelakaan pesawat.

Direktur Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin mengatakan, ada dua posko yang diaktifkan di dua titik di Bandara Soetta. Posko sudah dikunjungi Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi.

“Yang kita aktifkan ada dua titik, satu adalah emergency operasional center yaitu pusat penanggulangan kedaruratan Bandara Soetta,” ujarnya saat ditemui Tangerang Ekspres (Radar Banten Group) di Terminal 2D, Sabtu (9/1).

Awaluddin mengungkapkan, yang kedua adalah posko Crisis Center di Terminal 2D. Posko ini dibuat untuk melakukan pendataan awal yang akan dicocokkan dengan data korban dalam pesawat yang kini masih dalam proses pencarian di sekitar Kepulauan Seribu

“Posko ini adalah posko Crisis Center untuk berkoordinasi juga antara stakeholder dan juga titik pertemuan maskapai Sriwijaya Air dan para keluarga yang sedang dalam pencarian dan penyelamatan saat ini,” paparnya.

Ia mengatakan, bagi warga yang merasa keluarga menjadi penumpang pesawat itu dapat membawa data kependudukan atau identitas keluarga untuk bisa dicocokkan di posko.

“Keluarga korban bisa langsung mendatangi posko, silakan melaporkan kehilangan keluarga yang terlibat kecelakaan pesawat Sriwijaya. Karena nanti akan ada petugas yang membantu di sana,” ungkapnya.

Awaludin menuturkan, posko akan dibuka sampai seluruh korban ditemukan dan juga pihak terkait menyatakan pencarian selesai. Artinya, posko ini ada sampai dengan informasi yang dibutuhkan lengkap.

“Posko ini buka 24 jam, petugas sudah bersiaga untuk membantu keluarga korban. Kami turut berduka cita atas peristiwa yang menimpa para penumpang Sriwijaya Airlines, semoga ada penumpang yang selamat,” tutupnya.

KLAIM LAYAK TERBANG

Pada bagian lain, pihak Sriwijaya Airlines  menyatakan pesawat tujuan Jakarta-Pontianak tersebut dinyatakan layak terbang dan tidak ada kendala.

Direktur Utama (Dirut) Sriwijaya Air, Jefferson Irwin Jauwena mengklaim, pesawat dengan nomor penerbangan SJ-182 sangat layak untuk terbang dan mengangkut penumpang. Sebelumnya pesawat tersebut melakukan perjalanan degan tujuan yang sama pada awal tahun ini.

“Kalau kondisi pesawat dalam keadaan sehat, sebelumnya pulang pergi ke Pontianak dan harusnya tidak ada masalah. Semuanya lancar,” ujarnya saat press conference di Terminal 2D Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu (9/1).

Jefferson menjelaskan, pesawat mengalami keterlambatan dari jadwal penerbangan pukul 13.40 WIB menjadi pukul 14.37 sebelum dinyatakan hilang kontak.

“Keterlambatan keberangkatan Sriwijaya Air SJ-182 selama 30 menit bukan karena kendala mesin. Delay terjadi akibat hujan deras,” paparnya.

Ia menuturkan, pada saat lepas landas tidak terjadi laporan masalah, karena memang penerbangan yang dilakukan sudah layak. Kalaupun memang tidak layak dan ada masalah, pihak teknis akan segera melakukan perbaikan.

“Kita sedang dalami, kita tidak tahu apa yang menjadi penyebab. Pesawat yang kita miliki terawat dengan baik, walaupun usia pesawat kami sudah 25 tahun,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono menuturkan, masih mengumpulkan data dan informasi terkait cuaca ekstrem saat take off pesawat.

“Kalau cuaca, kami berkoordinasi sama BMKG. Kami sedang kumpulkan data satelit, semua kita kumpulkan. Jadi kami bersama dengan BMKG untuk mengevaluasi cuaca yang terjadi saat itu seperti apa,” tutupnya. (nna-ran/rbnn/air)