Ketua Panitia Initiation Camp M Chairul Anwar (kiri) membimbing aktivitas santri Ponpes Modern Assa’adah yang menjalani Initiation Camp di Desa Sukaraja, Kecamatan Warung Gunung, Kabupaten Lebak.

SERANG – Pondok Pesantren Modern Assa’adah, Pasirmanggu, Cikeusal, Kabupaten Serang, melaksanakan Initiation Camp (Incamp) untuk santri akhir selama 5 hari pada 5 – 10 Maret 2019.

Pesertanya sebanyak 132 santri. Mereka dibagi menjadi 44 kelompok. Tiga orang per kelompok disebar ke 44 rumah yang masuk dalam kriteria rumah tangga kurang mampu dari segi ekonomi di delapan kampung di Desa Sukaraja, Kecamatan Warung Gunung, Kabupaten Lebak. Selama lima hari, santri tinggal di rumah warga yang menjadi orangtua suah mereka.

Pimpinan Pondok Pesantren Modern Assa’adah KH Mujiburrahman mengatakan, Incamp adalah univeritas segala jurusan. Diajarkan di dalamnya tentang bab akhlak, bab jual beli, bab pertanian, dan lain sebagainya. “Maka sangat diharapkan para santri dapat belajar tentang hal-hal yang ada di masyarakat,“ ungkapnya dikutip dari siaran pers, Minggu (10/3).

Kepala Desa Sukaraja Haeri mengatakan, santri harus bisa mengambil manfaat dan bisa belajar dari apa yang ada di hadapannya. Dimulai dari tahun 2008, kegiatan ini banyak memberikan dampak positif bagi santri dan warga yang ditempati.
M Chairul Anwar, ketua panitia, mengungkapkan, dengan adanya kegiatan tersebut, santri dilatih memiliki inisiatif agar dapat mencari solusi dari permasalahan ekonomi di masyarakat. Selain rasa empati dan kepedulian sosial terhadap sesama.

Untuk orangtua asuh yang sudah memiliki pekerjaan, santri akan mengikuti semua aktivitas pekerjaan orangtua asuhnya. Dari mencari kayu bakar, memasak hingga mengikuti pekerjaannya sebagai guru ngaji, pedagang bakso keliling, tukang panggul kayu, pedagang cimol, buruh bangunan, buruh tani, ternak bebek kecil-kecilan, dan sebagainya.

Bagi warga yang tidak memiliki pekerjaan, lanjut dia, santri harus memiliki inisiatif membuka peluang usaha bagi orangtua asuhnya. Seperti jualan jagung rebus, menjadi tukang cukur keliling, jual gorengan, dan lainnya. Semua hasil dari pekerjaannya itu diserahkan kepada orangtua asuh.

“Diharapkan semua peserta selepas dari kegiatan ini menjadi santri yang lebih mandiri dan banyak bersyukur,” ujarnya. (aas)