14 Tahun, Aborsi Ratusan Janin

0
442 views
Direktur Reskrimsus Polda Banten Nunung Syaifuddin (kedua dari kiri) dan Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Edy Sumardi Priadinata (kedua dari kanan) saat mengangkat barang bukti kasus aborsi di Mapolda Banten, Selasa (3/11)

SERANG – Sejak beroperasi pada 2006 Klinik Bidan Sejahtera milik bidan NN di Kampung Cipacing, Desa Ciputri, Kecamatan Kaduhejo, Kabupaten Pandeglang ternyata telah mengaborsi lebih dari 100 janin. Hal tersebut diketahui dari hasil pemeriksaan kedua tersangka NN dan perawatnya, ER. “Pengakuannya keduanya selama 14 tahun itu sudah lebih 100 kali melakukan aborsi di Klinik Bidan Sejahtera,” ujar Direktur Reskrimsus Polda Banten Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Nunung Syaifuddin saat ekspos di Mapolda Banten, Selasa (3/11).  

Nunung mengatakan, pasien aborsi di klinik tersebut berasal dari Pandeglang, Lebak dan Serang. Banyaknya pasien aborsi tersebut dikarenakan mereka yang tidak menginginkan kehadiran bayi. “Dari Pandeglang, Lebak dan Serang (asal pasien-red),” ujar Nunung didampingi Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Edy Sumardi Priadinata.

Dikatakan Nunung, janin dengan usia di bawah tiga bulan dibuang tersangka ke dalam wastafel. Sementara janin yang usianya di atas tiga bulan dibawa pulang oleh pasien. “Di bawah tiga bulan masih gumpalan darah dibuang ke wastafel. Kemudian yang sudah berbentuk (janin-red) dibawa oleh pasien,” kata Nunung.

Untuk mengecek keberanan keterangan tersangka, penyidik telah mengecek septic tank klinik. Hasilnya, penyidik tidak menemukan mayat bayi atau pun tulang bayi. “Kami sudah cek ke TKP (tempat kejadian perkara-red) termasuk ke septic tank-nya karena kami ingin tahu apakah ada mayat bayi, ternyata tidak ada,” kata mantan Kapolres Serang ini.

Nunung mengatakan, tindakan aborsi yang dikakukan NN dan ER tersebut berjalan rapi sehingga tidak tercium oleh aparat kepolisian selama bertahun-tahun. “Mungkin karena mereka cukup rapi hanya pasien-pasien tentu bisa masuk ke sana dan memang lokasinya masih sepi,” kata mantan direktur Polairud Polda Banten ini.

Dari lokasi, polisi telah mengamankan sejumlah barang bukti. Di antaranya, peralatan untuk aborsi seperti baskom alumunium, gunting dan penjepit. Selain itu, dua botol kecil obat injeksi dan satu alat suntik turut diamankan. “Barang bukti lain berupa uang Rp2,5 juta,” kata Nunung.

Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Edy Sumardi Priadinata mengatakan, pengungkapan kasus tersebut pada Senin (26/10) sore. Saat itu anggota Subdit IV Tipiter Ditreskrimsus Polda Banten menerima adanya informasi dari masyarakat mengenai praktik aborsi di Pandeglang. Polisi yang menerima informasi tersebut kemudian melakukan penyelidikan ke lapangan.

Saat melakukan pengintaian di lokasi yang dilaporkan, polisi mendapati RY dan pacarnya WS baru saja keluar dari klinik dengan menggunakan sepeda motor. Polisi lalu mencegat keduanya saat melintas di jalan. Saat dilakukan pemeriksaan, polisi mendapati hasil pemeriksaan USG dan test pack yang menyatakan RY positif hamil. Kepada polisi, RY mengaku telah mengaborsi janinnya. “RY ini mengaborsi janinnya dengan usia satu bulan,” ujar Edy.

Polisi yang mendengar pengakuan RY tersebut lantas mendatangi klinik NN. Disana, NN tidak seorang diri. Dia bersama perawat ER dalam melakukan tindakan aborsi. “Tersangka (NN dan ER-red) ini ditangkap sesaat setelah melakukan praktek aborsi. Untuk motif NN ini untuk mencari keuntungan karena biaya aborsi ini sebesar Rp2,5 juta,” kata Edy.

Dikatakan Edy, selain NN dan ER penyidik juga menetapkan RY sebagai tersangka. Perbuatan RY dijerat Pasal 346 KUH Pidana tentang Aborsi. “RY ditetapkan tersangka karena dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan atau menyuruh orang lain. Ancaman pidananya paling lama empat tahun,” kata Edy.

Sedangkan NN dan ER dijerat Pasal 194 Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan jo Pasal 75 ayat (2) UU Kesehatan. “Setiap orang melakukan tindakan aborsi yang tidak sesuai ketentuan ancaman pidananya paling lama 10 tahun dan denda Rp1 miliar,” tutur Edy. (mg05/air)