Bertubuh ideal, tampan, dan energik, begitulah gambaran sosok Borek (61), bukan nama sebenarnya. Ditemui wartawan saat melepas lelah di sebuah masjid, Borek yang memiliki empat anak mengaku, menikmati masa tua bersama sang istri tercinta, sebut saja Puah (57).

Meski awalnya sempat malu-malu ketika diminta bercerita tentang masa muda, Borek akhirnya tak bisa memendam gejolak curahan hatinya tentang berbagai pengalaman menarik masa lalu. Sambil mengubah posisi duduknya, ia berkata pelan seolah sedang memberi petuah pada muridnya.

“Saya mau berbagi pengalaman, siapa tahu berguna buat adik yang masih muda. Apalagi nanti kalau sudah menikah, kalau ingin bahagia, bisa diambil hikmahnya dari cerita saya,” seloroh Borek kepada Radar Banten.

Terlahir dari keluarga sederhana, masa kecil Borek berlangsung ceria. Disayangi kedua orangtua, ia tumbuh menjadi anak yang berkarakter periang dan mudah bergaul. Maklumlah, meski tidak kaya, sejak kecil Borek selalu dididik untuk berpikir terbuka. Mempelajari bahasa Inggris dan kemampuan berhitung bersama sang ayah, ia menjadi anak unggul dibanding teman-teman seusia.

Sampai beranjak remaja, beragam prestasi diraih baik bidang akademik maupun nonakademik. Hebatnya, ibarat anak ajaib yang terlahir sempurna, Borek kecil bisa menguasai berbagai hal. Tidak hanya pandai dalam pelajaran, ia juga mahir berolahraga. Tak heran, meski usia sudah tua, ia masih terlihat bugar.

“Bertambahnya usia bukan alasan untuk malas olahraga. Dulu saya merokok, setelah kena penyakit paru-paru, tobat dah langsung. Sekarang alhamdulillah, rutin lari pagi seminggu sekali, badan sehat terus,” kata Borek bersemangat.

Ketika lulus SMA, borek harus menerima kenyataan pahit ditinggal sang ayah tercinta. Lantaran ia anak tertua dari tiga bersaduara, Borek menjadi tulang punggung keluarga. Terpaksa, ketika teman-teman yang dahulu berhasil ia singkirkan pada peringkat kelas melanjutkan kuliah, Borek justru memilih bekerja membantu ekonomi keluarga.

Melamar pekerjaan ke sana kemari tak kunjung mendapat hasil, Borek sempat frustasi dan bekerja sebagai pelayan di rumah makan. Hingga ia mendapat info lowongan pekerjaan di perusahaan baru di daerah Cilegon, Borek pun bergegas mendaftar demi memperbaiki masa depan.

Mungkin mendapat jawaban atas doa yang selama ini dipanjatkan, Borek pun diterima bekerja di salah satu perusahaan kimia ternama di Cilegon. Mendapat upah besar dan mampu meningkatkan ekonomi keluarga, Borek pun semangat bekerja. Saking semangatnya, ia sampai lupa waktu.

Seiring berjalannya waktu, Borek terus melesat meningkatkan taraf hidupnya. Membeli rumah dan kendaraan pribadi, ia memiliki kemapanan di usia muda. Tak terasa, saking sibuknya bekerja, di usia yang menginjak kepala tiga, Borek belum berumah tangga. Padahal ibu dan saudara sering mengingatkan untuk segera mengakhiri masa lajang.

Sadar akan keadaan, Borek pun mencari pendamping hidup. Sempat berganti-ganti kekasih, ia termasuk lelaki yang selektif. Parahnya, bahkan sampai ada yang hari ini jadian, besoknya langsung putus hanya karena tak suka dengan ucapan sang wanita. Aih, kok begitu sih, Kang?

“Waktu itu merasa enggak nyaman saja. Masa baru jadian sudah ngomongin rumah, uang, dan lain-lain. Kan ketahuan banget matrenya,” curhat Borek.

Lelah mencari yang cocok, akhirnya pilihan pun jatuh pada Puah. Wanita yang sebenarnya sudah lama mengenal Borek tetapi tidak menunjukkan rasa. Tak disangka, seolah sudah merasa yakin, Puah sendiri yang awalnya menanyakan status sang lelaki. Borek pun menanggapi. Jadilah mereka resmi menjadi sepasang kekasih.

Puah bukan perempuan biasa. Selain cantik, ia juga berasal dari keluarga berada. Wajah manis dengan lesung pipi nan menggoda, membuat Borek tak menolak saat Puah menyampaikan rasa. Ibarat Hamis Daud dan Raisa, mereka pasangan serasi dan mesra.

Tak menunggu lama, sebulan setelah jadian, mereka sepakat menuju jenjang pernikahan. Mengikat janji sehidup semati, Puah dan Borek resmi menjadi sepasang suami istri. Menggelar pesta meriah, keduanya bak ratu dan raja duduk bersanding di singgasana.

Di awal pernikahan, Borek dan sang istri langsung menempati rumah mewah hasil kerja keras sewaktu muda. Puah merasa bahagia. Selain tampan, Borek juga mapan. Jangankan rumah, kendaraan pribadi dan kebutuhan sehari-hari pun terpenuhi. Tak heran jika kedua keluarga tampak harmonis menyaksikan kedua buah hati hidup sejahtera.

Setahun kemudian, lahirlah anak pertama, membuat hubungan semakin mesra. Namun sejak saat itu, ketika Puah sibuk mengurus sang buah hati, ia mulai merasakan kesepian. Sang suami yang ia cinta kerap pulang malam dan tak ada waktu untuk anaknya. Aih-aih, kok begitu sih, Kang?

“Ya waktu itu yang ada di kepala saya cuma kerja, kerja, kerja. Pokoknya kalau hasil kerja saya bagus, nanti manfaatnya juga buat keluarga,” tutur Borek.

Setahun, dua tahun Puah masih mampu bertahan dan mengerti sang suami. Namun menjelang tahun ketiga sampai kelima, ketika mereka sudah punya anak dua. Puah merasa tak diperhatikan. Meski segala fasilitas tersedia bahkan sampai menyewa pembantu rumah tangga, tetap saja, tanpa kehadiran Borek, semua terasa hampa.

Dan peristiwa itu pun terjadi. Beratahun-tahun ia mengabdi pada perusahaan, Borek menjadi karyawan berpengalaman yang dipercaya atasan. Ia pun sering diminta pergi ke luar kota untuk mengurus pekerjaan. Saat itu sudah seminggu lebih Borek tak pulang karena harus keluar kota. Rindu pada keluarga pun tak tertahankan. Setelah selesai mengurus pekerjaan, lekas ia pulang menemui anak istri.

Dan malam itu Borek datang mengetuk pintu rumah. Namun berulang kali mengucap salam, tak ada jawaban. Pintu pun terkunci dan tampak seperti tidak ada orang. Borek bingung dan lekas menelepon sang istri, tetapi tak diangkat. Sampai akhirnya, datanglah tetangga rumah mengabarkan kalau istrinya sedang di rumah sakit bersama sang anak.

Borek lekas menginjak pedal gas, mobilnya melesat membelah malam. Sesampainya di rumah sakit, ia dapati sang buah hati terbaring lemas. Tubuhnya panas dan tampak pucat. Dimarahinya sang istri karena tak mengabari. Apa mau dikata, Puah pun tak terima, keributan terjadi di antara keduanya.

Puah mengamuk karena Borek terlalu sibuk bekerja sampai melupakan anak istri. Perannya sebagai ayah sekaligus suami tak pernah dirasakan oleh Puah. Hebatnya, setelah dimarahi, Borek tak bersuara. Wajahnya tertunduk sambil menitikkan air mata. Sejak saat itu, setelah sang anak sembuh, Borek memutuskan pensiun dini dari tempatnya bekerja.

“Saat itu saya sadar, kalau hidup bukan cuma buat mengejar harta, tapi ada keluarga yang harus diperhatikan. Saya enggak mau kehilangan momen indah dengan anak istri. Lebih baik saya buka usaha sendiri,” curhat Borek.

Subhanallah, semoga langgeng terus ya Kang Borek dan Teh Puah. Amin. (daru-zetizen/zee/ira/RBG)