150 Kilogram Ganja Gagal Diedarkan

Kepala BNNP Banten Brigjen Pol Tantan Sulistyana (tiga dari kanan) mengangkat barang bukti narkoba di kantor BNNP Banten, Kamis (18/7).

TIGARAKSA –  Rendi Suryo Utomo (34) gagal menjual 150 kilogram (kg) daun ganja kering miliknya. Soalnya, residivis kasus narkoba ini justru bertransaksi dengan polisi yang menyamar. Senin (15/7), warga asal Bekasi ini ditangkap petugas Satresnarkoba Polresta Tangerang.

Kapolresta Tangerang Komisaris Besar (Kombes) Pol Sabilul Alif menerangkan, pengungkapan ratusan paket ganja itu berawal dari informasi adanya pengiriman ganja dalam skala besar dari Kota Bekasi ke wilayah Tangerang. Atas informasi itu, Sabilul memerintahkan personelnya melakukan investigasi.

“Informasi tersebut kemudian dicocokkan dengan jaringan yang telah terungkap sebelumnya sebagai bagian dari proses pengembangan. Dari hasil analisis dan pencocokan, kami menelusuri lebih dalam informasi itu,” kata Sabilul saat ekpos di Mapolresta Tangerang, Kamis (18/7).

Agar lebih akurat, Sabilul memerintahkan satu personel Satresnarkoba Polresta Tangerang melakukan under cover atau penyamaran. Polisi yang menyamar itu berpura-pura sebagai calon pembeli. Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Rendi Suryo Utomo mulai membuka komunikasi dengan petugas.

Namun, petugas masih sulit untuk memeroleh kepercayaan dari Rendi. Bahkan, Rendi selalu menolak bertransaksi dan mengelak sebagai pengedar ganja. “RSU ini sangat berhati-hati berkomunikasi hingga akhirnya sambil membujuk bisa sepakat juga untuk transaksi,” terang Sabilul.

Usai transaksi disepakati, Rendi mengaku ada orang lain yang bakal menghubungi petugas. Tak lama, orang yang disebutkan Rendi menghubungi petugas. “Orang itu hanya meminta kami datang ke suatu tempat di wilayah Kota Tangerang untuk bertransaksi pada pukul 11 malam,” tutur Sabilul.

Namun, beberapa jam usai menyampaikan lokasi dan waktu transaksi, orang tersebut membatalkannya. Lokasi dan waktu diubah menjadi keesokan harinya di wilayah Grogol, Jakarta. Lagi-lagi, janji transaksi dibatalkan sepihak. Akhirnya, Rendi meminta bertemu di wilayah Bekasi, Jawa Barat. “Setibanya kami di Bekasi, sesuai waktu yang ditentukan, RSU menghubungi kami dan meminta kami ke suatu perumahan di Kota Bekasi,” terangnya.

Saat bertemu, Rendi diminta untuk menunjukkan ganja yang dijanjikan. Tanpa curiga, Rendi menunjukkan sebuah kardus berisi 10 bal daun ganja dengan balutan lakban warna cokelat. “Saat itu juga kami langsung lakukan penangkapan,” kata Sabilul.

Rendi kemudian dibawa petugas ke kediamannya di Perumahan Rawalumbu, Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi. Polisi kembali menemukan sembilan kardus dan tiga bungkus plastik besar warna hitam berisi ganja di kamar tidur Rendi. “Total ganja yang kami amankan sebanyak 150 kilogram. Namun menurut tersangka, awalnya ganja itu berjumlah 250 kilogram. Namun 100 kilogram sudah laku terjual ke wilayah Jakarta dan sekitarnya. Ini merupakan penangkapan terbesar,” beber Sabilul.

Saat diinterograsi, Rendi mengaku tidak melayani transaksi dalam jumlah kecil. Transaksi minimal sebanyak 10 kilogram. Atas perbuatannya, Rendi ditahan di Mapolresta Tangerang. “Tersangka terancam pidana 20 tahun penjara atau bisa seumur hidup,” kata Sabilul.

Sementara, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Banten, Kamis (11/7) lalu, telah mengamankan 150 kg ganja di Kelurahan Benda, Kota Tangerang. Selain itu, BNNP Banten juga menggagalkan penyelundupan sabu-sabu 5,2 kg di Pelabuhan Merak pada Sabtu (6/7).

Atas pengungkapan kasus tersebut, Kepala BNNP Banten Brigadir Jenderal Polisi (Brigjen Pol) Tantan Sulistyana mengklaim telah menyelamatkan lebih dari enam juta jiwa. “Kalau untuk sabu 5,2 kilogram dapat menyelamatkan kurang lebih 26 ribu orang generasi penerus bangsa. Sedangkan untuk pengungkapan 150 kilogram ganja sekitar enam juta penerus bangsa yang telah diselamatkan,” kata Tantan saat ekspos di kantor BNN Provinsi Banten, Kamis (18/7).

Dari dua kasus tersebut, BNN Provinsi Banten bersama BNN Pusat telah menangkap dan menetapkan tiga orang sebagai tersangka. MN (39) warga Jakarta sebagai kurir sabu 5,2 kg. “ Dan kurir ganja 150 kilogram FN usia 29 tahun dan IG usia 44 tahun (ditetapkan tersangka-red),” kata Tantan.

Dia menjelaskan, kedua kasus tersebut masih dalam proses pengembangan. Kendati sama berasal dari Aceh namun kedua sindikat tersebut berbeda jaringan. “Kami masih kembangkan untuk ke atas lagi (bandar-red) karena yang kami amankan ini semuanya kurir,” jelas Tantan.

FN dan IG mengakui telah dua kali menyelundupkan ganja dengan berat hampir sama dengan barang bukti 150 kg yang diamankan. Ganja yang lolos tersebut diduga telah diedarkan di wilayah Banten, Jakarta dan Jawa Barat. “Untuk yang sabu baru satu kali. Mereka diberi imbalan Rp5 6 juta untuk ganja dan Rp20 juta untuk sabu,” kata Tantan. (mg04-mg05/nda/ags)