Perahu nelayan di Kampung Teluk, Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Pandeglang, yang rusak diterjang tsunami Desember 2018.

PANDEGLANG – Puluhan nelayan di Kampung Teluk, Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Pandeglang melakukan demonstrasi di Pantai Teluk Labuan, Jumat (1/3) pagi. Mereka menagih janji pemerintah pusat yang belum memberikan bantuan perahu kepada korban tsunami.

Dalam aksinya, puluhan nelayan meminta Pemkab Pandeglang menyampaikan keluhan mereka kepada pemerintah pusat. Mereka menilai pemerintah pusat hanya mengobral janji.

Jangan cuma janji, kami tidak butuh janji. Kami hanya ingi agar pemerintah pusat segera memberikan bantuan perahu yang pernah disampaikan kepada kami setelah tsunami terjadi. Tolong segera penuhi janji itu,” kata Masdi (45), nelayan di Desa Teluk.

Masdi mengaku, kesulitan mendapatkan uang karena perahu yang biasa digunakan untuk mencari ikan hancur saat tsunami Desember tahun lalu.

“Sekarang kami enggak bisa kerja, mau kerja dimana? Kerja apa? Perahu yang biasa digunakan untuk nangkap ikan udah hancur. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja bingung. Mau kerja enggak punya keahlian, modal juga enggak ada. Tolonglah pemerintah segera berikan bantuan perahu untuk kami,” katanya berharap.

Mahdum (50), nelayan lainnya, mengatakan, untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, dirinya bekerja kepada nelayan lain yang perahunya tidak rusak. “Saya sekarang ikut sama nelayan lain. Emang penghasilannya hanya Rp50 ribu sehari, kalau dulu bisa sampai Rp200 sehari. Uang segitu mana cukup, ditambah kerjanya enggak setiap hari. Kami berharap betul pemerintah bisa segera memberikan bantuan perahu untuk kami,” katanya.

Asisten Daerah Bidang Ekonomi Pembangunan Pemkab Pandeglang Indah Dinarsiani saat dikonfirmasi mengaku sering menyampaikan permohonan bantuan perahu untuk para nelayan kepada pemerintah pusat.

“Kita sudah sering minta bantuan itu. Namanya juga minta, jadi harap bersabar. Kita pasti akan bantu para nelayan. Ibu Bupati (Irna Narulita-red) juga sudah sering menyampaikan agar ketika ada bantuan jangan dilarikan ke huntara (hunian sementara) saja, tetapi masukan juga ke perikanan, karena banyak perahu nelayan yang rusak,” katanya. (Adib F/Aas)