16.994 Jiwa Terdampak Banjir di Tangerang

:Foto udara yang menunjukkan permukiman di Tangsel terendam banjir akibat luapan Kali Angke.

BANJIR juga melanda wilayah Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangsel, dan Kabupaten Serang. Banjir melumpuhkan aktivitas warga dan akses jalan.

Di Kota Tangerang, banjir terjadi lantaran kiriman air dari Jakarta, akibat debit air di pintu air Katulumpa dan Batu Belah melebihi batas normal yang mengakibatkan Kali Angke dan Kali Cisadane serta beberapa saluran air lainnya meluap. 

Asda II Kota Tangerang Indri Astuti mengatakan, ada 267 titik lokasi banjir. Yakni, Kecamatan Larangan 38 titik, Ciledug 74 titik, Karang Tengah enam titik, Cipondoh 26 titik, Batuceper tiga titik, Benda 14 titik, Pinang 56 titik, Tangerang 12 titik, Neglasari 11 titik, Periuk tiga titik, Karawaci 17 titik, Jatiuwung tiga titik, dan Cibodas empat titik.

“Untuk jumlah warga yang terdampak banjir 16.994 jiwa,” katanya melalui siaran pers, Rabu (1/1).

Kata Indri, Pemkot Tangerang telah  mendirikan 14 posko banjir dan 14 dapur umum, membuat 22 posko kesehatan dan menyiagakan 176 orang. “Kami juga menerjunkan 16 perahu ke lokasi banjir serta terus meng-update titik banjir dan warga yang terdampak,” ungkapnya.

Pantauan Radar Banten di Jalan MH Thamrin, jalan itu tertutup lantaran terendam banjir akibat luapan Sungai Cisadane. Imbasnya akses Jalan MH Thamrin dari arah Gading Serpong menuju Cikokol macet parah. Jalan yang biasanya bisa ditempuh dalam waktu 15 menit, Rabu (1/1) malam bisa dilalui dua jam.

Sementara di Kabupaten Tangerang, ratusan rumah warga terendam. Hingga pukul 17.45 WIB, Rabu (1/1), banjir meluas ke berbagai wilayah kecamatan.

Kepala BPBD Kabupaten Tangerang Bambang Sapto mengatakan, awalnya banjir melanda di Kelapa Dua, Pagedangan, Teluknaga, Kosambi, dan wilayah lain di wilayah utara Kabupaten Tangerang, lalu meluas ke Cisoka dan kecamatan lain.

“Banjir akibat luapan sungai yang berada di sekitar wilayah terdampak. Sungai-sungai tersebut misalnya Sungai Cisadane, Cidurian, dan lainnya. Kebanyakan warga yang terdampak berada di sekitar sungai,” katanya, Rabu (1/1).

Sapto menerangkan, ketinggian banjir hingga mencapai satu meter lebih. Sementara warga yang terdampak, sebagian bertahan di rumah menunggu air surut dan ada pula yang mengungsi di tenda darurat yang disediakan BPBD. “Untuk pengungsian, kami sudah dirikan tenda besar untuk warga mengungsi di sejumlah titik. Sedangkan untuk menyisir dan evakuasi korban banjir, kami menggunakan lima perahu karet. Tiga perahu karet lain untuk cadangan kedaruratan,” terangnya.

Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar turut memantau banjir di Kecamatan Kelapa Dua dan Pagedangan. Zaki juga meninjau Rumah Sakit Al Qadr lantaran puluhan pasien diungsikan karena terdampak banjir. “Kondisi saat ini masih siaga banjir kiriman. Untuk warga di bantaran sungai, harus waspada dan siap mengungsi,” katanya.

Sedangkan di Tangsel, Walikota Airin Rachmi Diany  melakukan pemantauan titik banjir yang tersebar di tujuh kecamatan dengan menggunakan motor. “Kami melakukan pemantauan di tujuh kecamatan. Karena hampir merata banjirnya di tujuh kecamatan, saya mau pastikan titik mana saja yang masih banjir dan surut. Kita antisipasi karena curah hujan masih sangat tinggi dan kita sudah koordinasi dengan semuanya,” katanya.

Ia memerintahkan camat stand by di tempatnya masing-masing berkoordinasi dengan lurah, untuk tim BPBD keliling ke semua wilayah dan juga Dinsos untuk membuka dapur umum dan makanan siap saji. Berdasarkan pemantauan, banjir terparah terjadi di Pesona Serpong karena limpahan dari Sungai Cisadane. Lalu,  Grahapermai, Ciputatbaru, Maharta, Setneg, Kayugede, Situsasak, dan Situ 7 Muara Pamulang Square.

SERANG

Sementara di Kabupaten Serang, banjir melanda Kecamatan Bojonegara dan Puloampel. Warga Puloampel, Roni Hasroni mengatakan, ada beberapa rumah warga di Desa Puloampel yang terendam banjir. Ketinggian air hingga sepinggang orang dewasa. “Baru ini banjir,” katanya.

Ia mengatakan, banjir merupakan dampak pertambangan gunung di Puloampel. Gunung di wilayah tersebut sudah tidak lagi menyerap air yang kemudian mengalir ke dataran rendah. “Jembatan (saluran air-red) yang baru dibangun juga tidak bisa menampung aliran air yang deras,” ujarnya.

Di waktu yang sama, banjir juga terjadi di Desa Bojonegara dan Desa Margagiri, Kecamatan Bojonegara. Banjir menggenangi rumah hingga setinggi 50 sentimeter. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang Nana Sukmana Kusuma mengatakan, banjir tersebut akibat dampak dari penggalian gunung di wilayah tersebut. Kemudian, juga dampak dari penyempitan jalur kali dan tersumbatnya gorong-gorong. (one-mg04-you-jek/air/alt/ira)