16 Tahun Provinsi Banten: So What?

0
486

HARI ini, Selasa, tanggal 4 Oktober 2016, Provinsi Banten genap berusia 16 tahun. Dibandingkan dengan usia berbagai provinsi lainnya di Indonesia, usia Provinsi Banten memang relatif masih belia. Tapi juga tidak bisa disebut usia balita.

Di usianya yang ke-16 Provinsi Banten terbayangkan sedang melaju pesat pembangunan infrastrukturnya, sedang bergegas menata pelayanan dasar masyarakatnya, sudah tertata baik governance pemerintahannya, sudah mulai kokoh fondasi perekonomian masyarakatnya, bahkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)-nya dan indeks daya saingnya sudah jauh membaik dibandingkan era sebelum tahun 2000.

Kesenjangan pembangunan antar wilayahnya juga sudah sangat kecil. Product Domestic Regional Bruto (PDRB)-nya juga terus meningkat pesat dari tahun ke tahun. Demikian juga pertumbuhan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM)-nya telah bangkit menjadi penghela pendapatan masyarakat Banten, termasuk di dalamnya perkembangan ekonomi kreatif berbasis budaya Banten. Mengapa se-optimis itu bayangan tentang Provinsi Banten?

Modal Banten untuk Berjaya: Luar Biasa!

Banten pantas optimis menjadi provinsi terkemuka di Indonesia. Bagaimana tidak, posisi geografisnya bisa membuat iri provinsi lain: “selangkah” dari Jakarta, tetangga terdekat Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat. Akses ke pusat pemerintahan, ke pusat perekonomian nasional luar biasa mudah, terhubung langsung dengan jalan tol. Hanya diperlukan sekitar satu jam untuk mencapai Jakarta dari Ibu Kota Provinsi Banten yaitu Kota Serang. Bahkan Banten menjadi tapak bandara terbesar di negeri ini, yaitu Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang berlokasi di wilayah Kota Tangerang. Posisi Banten ibarat pintu gerbang Jawa dan Jakarta dari arah barat. Pintu masuk dari Sumatera ke Jawa – melalui darat! Kawasan laut Provinsi Banten bahkan tersambung langsung dengan kawasan laut Provinsi DKI Jakarta.

Luar biasa strategisnya. Belum lagi sejarah peradabannya yang cukup panjang dan masyhur. Siapa yang tak kenal dengan Kesultanan Banten yang berjaya enam abad yang lalu? Yang namanya harum di seantero negeri yang dikenal luas bahkan oleh para pedagang dari benua lain; yang pemerintahannya ketika itu disegani bangsa lain. Bahkan pada akhir abad ke-15 Kesultanan Banten sudah menempatkan “duta besar”-nya di Kerajaan Inggris.

Tentang budayanya, siapa yang tak kenal budaya unggul masyarakat Banten yang religius, berkarakter kuat, berani mengambil risiko dalam perjuangan melawan ketidakadilan dan sangat egaliter? Belum lagi kemasyhuran ulama-ulama Banten tempo dulu dalam membangun peradaban yang Islami. Ditambah lagi sumbangsih tokoh-tokoh Banten dalam masa-masa awal kemerdekaan Republik Indonesia yang demikian besar. Jadi tak ada keraguan sama sekali bahwa Banten memiliki sejarah dan warisan budaya yang unggul untuk berjaya.

Jumlah penduduk Banten juga cukup ideal, lebih dari 12 juta jiwa, suatu potensi pasar domestik dan sumber tenaga kerja yang cukup besar. Kekayaan sumberdaya alamnya juga tidak kecil. Bayangkan, Provinsi Banten memiliki hampir seluruh tipe ekosistem; dari laut sampai pegunungan; dari ekosistem mangrove, pantai, payau, rawa, sampai dataran rendah. Jadi daya dukung lingkungan Banten jelas sangat tinggi, baik untuk pertanian, tanaman pangan, hortikultura, biofarmaka, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan, dan lain-lain.

Banten juga kaya akan aneka sumberdaya mineral, dari timbal, kuarsa, bentonit, zeolite, batubara, sampai emas, sehingga potensi pertambangannya cukup besar. Belum lagi keanekaragaman flora dan fauna endemik-nya cukup menonjol. Bahkan badak bercula satu (Rhinoceros sondaicus) hanya ada di Banten, yaitu di Taman Nasional Ujung Kulon; tidak bisa dijumpai di negara manapun, tidak ada di belahan dunia manapun. Ini merupakan cagar biosfer yang amat langka dan amat penting di dunia. Ini merupakan daya tarik yang sangat besar bagi wisatawan.

Kekayaan lautnya jelas menggiurkan. Panjang garis pantainya lebih dari 509 km; kawasan lautnya mencapai lebih dari 11.000 km2, jauh lebih luas daripada yang dimiliki oleh Provinsi Jambi, DI. Yogyakarta, Bengkulu, Bangka-Belitung, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, bahkan Bali. Belum lagi pulau-pulau kecilnya yang indah dan cukup banyak – hampir 60 pulau jumlahnya. Bahkan kawasan wisata pantainya sudah sejak lama berkembang seperti di Anyer, Carita, Ujung Kulon, Tanjung Lesung, Pulau Umang dan lain-lain. Potensi energi panas buminya juga lumayan. Jadi tidak ada alasan Banten tidak jadi “jawara” (baca: juara, unggul). Namun bagaimana “potret” Banten saat ini? Bagaimana wajah peradaban Banten masa kini?

Wajah Banten Masa Kini

Setelah 16 tahun menjelma menjadi provinsi, secara umum Banten memang sudah mengalami banyak perkembangan. IPM-nya sudah melonjak menjadi lebih dari 70, sudah berada di peringkat ke-6 nasional, hanya “kalah” dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI. Yogyakarta, dan Jawa Timur. Padahal sebelum tahun 2000 IPM kumulatif Kab./ Kota di Banten baru sekitar 65. Artinya kualitas sumberdaya manusia Banten ditinjau dari aspek kesehatan, pendidikan dan daya beli sudah beranjak membaik. Jumlah penduduk miskinnya sudah turun dari 6.6% (tahun 2000) menjadi 5.75% (tahun 2015). Walaupun rata-rata lama masa sekolah penduduk Provinsi Banten masih sekitar 7-8 tahun, namun angka partisipasi kasar (APK) dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi telah meningkat tajam.

Demikian juga ketersediaan sarana-prasarana pendidikan telah jauh lebih baik. Kini Banten juga telah “memiliki” lebih dari tiga perguruan tinggi negeri yang cukup baik. Dengan perkataan lain hambatan anak-anak Banten untuk mengenyam pendidikan sudah jauh berkurang dibandingkan sebelum tahun 2000.

Investasi yang masuk ke Banten juga cenderung terus meningkat, dari Rp23.8 triliun pada tahun 2011 misalnya menjadi Rp42.5 triliun pada tahun 2015. Total realisasi investasi selama periode tahun 2011-2016 telah mencapai Rp192.4 triliun, sehingga Banten tergolong daerah dengan perolehan investasi nomor 5 tertinggi di Indonesia. Hal ini sangat mendukung tingkat penyerapan tenaga kerja di Provinsi Banten yang dalam lima tahun terakhir berkisar antara 83.070 orang sampai 119.511 orang per tahun. Hal ini juga sejalan dengan lumayan membaiknya infrastruktur ekonomi khususnya jalan raya di Provinsi Banten. Dengan itu semua Produk Domestik Bruto Provinsi Banten tumbuh rata-rata 5.13% per tahun (2016). Bahkan menurut Asian Competitiveness Institute (2016), daya saing Banten tergolong 10 terbaik di Indonesia; dengan kemudahan berbisnis berada di peringkat 11 nasional. Kondisi keamanan dan dinamika politik di Banten juga cukup baik. Jadi, secara umum, kondisi Provinsi Banten sudah lumayan-not bad. Tentu semua capaian ini patut disyukuri, namun “pekerjaan rumah” di Banten sejatinya masih bertumpuk.

Di pihak lain dalam Rapat Komisi Teknik Bidang Teknologi, Ekonomi Pembangunan dan Sumberdaya Alam yang diselenggarakan oleh Dewan Riset Daerah Provinsi Banten tanggal 29 September 2016 terungkap bahwa masalah besar yang menghambat pembangunan Provinsi Banten adalah korupsi. Korupsi di jajaran pemerintahan Banten menjadi benalu yang sangat mengganggu laju pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ini juga berkaitan dengan reformasi birokrasi yang belum sepenuhnya berjalan; akibatnya efektivitas dan akuntabilitas tata kelola pemerintahan masih jauh dari harapan. Itulah sebabnya, barangkali Provinsi Banten menjadi salah satu dari empat provinsi di Indonesia yang saat ini menjadi sasaran pendampingan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Pelayanan publik yang cepat dan inovatif juga masih menjadi tantangan tersendiri. Penerapan sistem perencanaan dan penganggaran berbasis kinerja (performace based planning and budgeting) belum sepenuhnya terwujud. Sistem monitoring dan evaluasi kinerja pejabat dan satuan kerja perangkat daerah yang ketat berbasis information and communication technology belum berjalan. Kalau semua ini tidak segera dibenahi, bukan tidak mungkin laju pembangunan Provinsi Banten tidak bisa melesat mengejar ketertinggalan dari provinsi lain. Kalau tidak ada political will yang kuat untuk memberantas korupsi, bisa-bisa tujuan utama otonomi daerah tidak akan tercapai. Pemanfaatan anggaran pembangunan juga kemungkinan menjadi tidak efektif. Padahal pada tahun-tahun mendatang jumlah transfer dana dari pusat ke daerah, termasuk ke Provinsi Banten, diperkirakan akan makin besar.

Pekerjaan rumah lainnya adalah kesenjangan pembangunan antara wilayah, khususnya antara wilayah utara dan wilayah selatan Banten yang masih cukup besar. Patut dicatat bahwa berbagai indeks pembangunan kabupaten/kota di utara Banten relatif lebih baik daripada kabupaten di wilayah tengah dan selatan Banten. Hal ini tercermin dari gini ratio Banten yang mencapai 0.45. Ini tentu terkait dengan pembangunan infrastruktur dan penyediaan layanan publik yang umumnya masih tertinggal di wilayah tengah-selatan Banten. Padahal infrastruktur memegang peranan penting sebagai salah satu roda penggerak ekonomi wilayah.

Senapas dengan kebijakan pemerintah pusat, pembangunan dan pembenahan infrastruktur selayaknya menjadi prioritas kerja Pemerintah Provinsi Banten ke depan. Konektivitas antar wilayah harus benar-benar jadi perhatian khusus. Gubernur/Wakil Gubernur Banten yang akan datang harus berhasil meyakinkan pemerintah pusat bahwa jalan tol Serang-Panimbang yang akan segera dibangun sepanjang 84 km harus “dilengkapi” dan harus tersambungkan dengan ruas tol (baru) Serpong-Balaraja.

Disamping itu pembangunan pelabuhan kapal pesiar di Selat Sunda atau di selatan Banten juga layak dipertimbangkan. Belum lagi betapa pentingnya pembangunan rel kereta api Labuan-Panimbang untuk menerobos isolasi di selatan Banten, selain me-reaktifasi jalur kereta api Rangkasbitung-Labuan dan Saketi-Malingping. Ini juga berkaitan dengan belum optimalnya pengembangan agro-industry di Banten. Padahal potensi pengembangan agro-industry di Banten sangat besar, termasuk pengembangan industri minyak atsiri berbasis tanaman sirih wangi, jahe, cengkih, kenanga, lada, gaharu, dan lain-lain.

Demikian juga belum optimalnya dukungan bagi UMKM berbasis sumberdaya lokal Banten. Dalam kaitan ini dukungan teknologi pengolahan dan teknologi pengemasan (packaging) bagi produk UMKM Banten termasuk emping dan sate bandeng sangat mendesak. Hal lain yang patut mendapat perhatian adalah kenyamanan berinvestasi di Provinsi Banten. Dalam kaitan ini hubungan industrial Pancasila yang selama ini di Provinsi Banten belum kokoh terbentuk selayaknya terus dibina dan ditumbuhkembangkan. Ini tentu memerlukan public private partnership dan sinkronisasi peraturan pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang benar-benar matang.

Leadership di Era 2017-2022

Selain setumpuk pekerjaan rumah tersebut diatas, Provinsi Banten juga membutuhkan pemimpin daerah yang kuat. pemimpin yang transformatif, yang secara sistemik mampu mewujudkan budaya meritokrasi di lingkungan pemerintahannya. Pemimpin yang berakhlak mulia – berintegritas tinggi yang mampu menjadi panutan, sekaligus berani merombak tata kelola pemerintahan yang tidak efisien dan tidak berorientasi kepada kualitas kinerja serta pelayanan prima. Pemimpin yang mampu menerapkan sistem evaluasi kinerja jajaran secara ketat. Dengan itu semua insya Allah The Greater Banten, consolidated Banten akan terwujud. Dirgahayu-lah Provinsi Banten!

Dodi Nandika
Pendidik, tinggal di Bogor.