161 Kasus DBD se-Banten, Dua Pasien Meninggal

SERANG – Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten, jumlah kasus deman berdarah dengue (DBD) per 17 Januari sebanyak 161 kasus. Jumlah kasus paling banyak terjadi di Kabupaten Pandeglang yakni 80 kasus. Meskipun berdasarkan data Dinkes Provinsi Banten tidak ada penderita yang meninggal dunia, tetapi data terbaru di Dinkes Kota Serang terdapat dua orang yang meninggal dunia.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Provinsi Banten Wahyu Santoso mengatakan, apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya di waktu yang sama, tidak ada peningkatan. “Dari delapan kabupaten kota hanya Pandeglang yang naik,” ujar Wahyu kepada Radar Banten, Selasa (25/2).

Wahyu mengatakan, dari 161 kasus DBD se-Banten, belum mencatat ada pasien yang meninggal dunia. Namun, Dinkes belum mendapat data terbaru per Selasa (25/2).

Kata dia, untuk menekan jumlah kasus DBD di Banten, sudah membuat surat edaran kewaspadaan dini peningkatan kasus DBD. Dinkes juga memperkuat surveilans dan gejala suspek DBD. “Kami juga meningkatkan lagi Gerakan satu Rumah satu Jumantik dan 3-M Plus, serta penyelidikan epidemiologi semua kasus-kasus DBD,” terang Wahyu.

Terpisah, Staf Pengelola Program Pengendalian Penyakit Berbasis Binatang Dinkes Kota Serang, Iwan Kuswono mengungkapkan, hingga saat ini jumlah kasus DBD di Kota Serang sebanyak 89 kasus. “Januari 47 kasus dan Februari sampai dengan saat ini ada 42 kasus,” ujarnya.

Dari jumlah itu, ia mengaku ada dua pasien yang meninggal dunia di wilayah Puskesmas Taktakan dan Puskesmas Banjaragung. Keduanya berusia lima tahun. Kata dia, baru tahun ini ada pasien DBD meninggal dunia, tapi ia berharap tidak lagi bertambah.

Berbeda dengan Dinkes Provinsi Banten, ia mengatakan, di Kota Serang terjadi peningkatan kasus dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun lalu, jumlah DBD di Ibukota Provinsi Banten ini mencapai 249 kasus.

Meskipun ada yang meninggal dunia, tapi belum dinyatakan kejadian luar biasa karena di tahun sebelumnya tidak ada kematian. Untuk menekan kasus DBD, Iwan mengatakan, sedang mengupayakan sosialisasi tentang pencegahan DBD dengan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik dengan metode pemberantasan sarang nyamuk. “Bukan dengan fogging pencegahannya,” tegas Iwan.

SERANG TIMUR WASPADA

Serangan penyakit DBD pun mulai menjangkiti warga di wilayah Kabupaten Serang. Wilayah terbanyak yang terserang penyakit dari nyamuk aedes aegypti ini di wilayah Serang Timur.

Hal itu diungkapkan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Serang dr Agus Sukmayadi saat mengikuti acara roadshow Lomba Kampung Bersih dan Aman (LKBA) 2020 di Lapangan Bogeg, Desa Sukadalem, Kecamatan Waringinkurung. “Yang paling banyak terserang penyakit DBD di wilayah Serang Timur,” kata Agus kepada Radar Banten, Selasa (25/2).

Menurutnya, wilayah yang kondisi lingkungannya buruk rentan terkena DBD. Dalam hal ini tercatat berada di Kecamatan Ciruas, Kragilan, Kibin, Cikande, hingga Kecamatan Kopo. “Biasanya selokannya kotor dan lembab banyak sarang nyamuknya,” ujarnya.

Agus mengaku sudah melakukan sosialisasi penanganan DBD dengan melakukan pencegahan DBD agar tidak meluas dengan memberantas sarang nyamuk, gotong royong membersihkan lingkungan, meningkatkan kesehatan warga, “Kita juga sudah melakukan foging di 200 rumah yang positif terjangkit DBD,” katanya.

Agus mengklaim, sistem surveilans yang sudah dilakukan sudah cukup baik. Ketika ada satu kasus di satu wilayah, dilakukan pelayanan sangat cepat sehingga penanganannya efektif. “Alhamdulillah tidak ada korban jiwa dan semoga tidak ada,” katanya. (nna-mg06/air/ags)