19 Bangunan Liar di Banten Lama Digusur untuk Baitul Quran

Deretan banguan liar yang digunakan untuk berjualan berada di depan taman Keraton Surosowan Kesultanan Banten, Kasemen, Kota Serang, Minggu (28/7). Foto Qodrat/Radar Banten

SERAN G- Untuk melanjutkan program revitalisasi Banten Lama, Pemprov Banten akan menertibkan bangunan liar (bangli) yang ada di depan Keraton Surosowan Banten Lama. Berdasarkan data Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Provinsi Banten, setidaknya ada 19 bangli yang ada di kawasan tersebut.

Kepala DPRKP Provinsi Banten M Yanuar mengatakan, bangli itu ditertibkan untuk pembangunan Baitul Quran. “Tahun ini kami desain dulu. Kalau pembangunannya insya Allah tahun depan,” ujar Yanuar, Minggu (28/7).

Yanuar mengatakan, masyarakat mengakui bahwa bangunan yang mereka tempati itu berada di atas tanah negara karena itu akan ditertibkan. “Membangun bangunan di tanah negara dan mereka sadar, itu bukan punya dia,” tuturnya. Penertiban, kata Yanuar, akan dilakukan oleh Satpol PP.

Ia mengakui sudah berkomunikasi dengan masyarakat yang menempati bangli. Bahkan, Pemprov sudah memberikan ganti tugi tapi mereka justru balik lagi. Untuk itu, Pemprov tidak akan lagi memberikan ganti rugi apabila penertiban dilakukan.

Kata dia, Baitul Quran yang akan dibangun di atas lahan itu adalah rumah Alquran. Di dalamnya ada seperti pusat kajian Islam. Selain itu, ada juga masukan dari Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) agar Pemprov menyediakan tempat untuk berlatih yang dipertandingkan di MTQ misalnya tahfiz dan macam-macam. “Nah nanti di situ,” tuturnya.

Kemudian sebelahnya akan dibuat rumah sehat atau griya sehat. Itu implementasi pengobatan gratis yang menjadi salah satu program Pemprov. Pemprov nanti akan bekerja sama dengan Baznas. “Jadi operasional seluruhnya yang menanggung Baznas Provinsi. Apalagi kan tiap ada penghasilan disisihkan untuk zakat, itulah operasional di situnya,” terang Yanuar.

Tak hanya itu, pihaknya juga akan membuat pusat oleh-oleh. Saat ini, pihaknya menyesalkan pusat oleh-oleh Banten Lama tapi yang dijual justru dodol garut dan jenis lain yang notabene bukan asli Banten. “Ya kan gitu, kalau sawo bolehlah,” tandasnya.

Sementara itu, kata Yanuar, tahun ini Pemprov kembali melanjutkan pembangunan revitalisasi Banten Lama. Saat ini, program yang sedang berjalan yakni revitalisasi Kaibon, Benteng Spelwijk, Masjid Pecinan, dan landscape kawasan Surosowan Banten Lama dengan anggaran Rp20 miliar.

Ia mengatakan, untuk penunjang kawasan Banten Lama, Kawasan Penunjang Wisata (KPW) yang dibangun Pemkot Serang juga harus didorong. “Sekarang pedagang di sana tidak ditangani tapi kan dilempar ke provinsi terus,” tandasnya.

Kata dia, orang hanya melihat secara fisik saja. Menurutnya, pembangunan fisik mudah dan dapat dilakukan satu tahun. Namun, yang paling sulit itu memelihara. Contohnya, saat ada kegiatan, rumput yang sudah disiram dan dirawat malah diinjak lalu mati nanti yang disalahkan DPRKP. Padahal, ia mengatakan, hal itu menyangkut kesadaran masyarakat.

“Harus ada rasa sosial bukan sekadar pembangunan fisik. Fisiknya ditanam mudah. Kemarin ada rusak kita perbaiki,” tutur Yanuar.

Kata dia, melatih kesadaran masyarakat bukan bagian dari DPRKP, tetapi ada aspek lain misalnya butuh peran Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, hingga Dinas Perdagangan dan Perindustrian serta Dinas Koperasi dan UMKM. “Mereka harus melakukan pembinaan,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Satpol PP Provinsi Banten M Basri mengaku siap menertibkan bangli-bangli tersebut. “Kami akan tertibkan sesuai SOP, misalnya dengan sosialisasi dan pemberitahuan lebih dulu. Kalau itu sudah, kami siap eksekusi,” tegasnya. (nna/alt/ags)