20 Caleg Petahana Tumbang

Gagal Bangun Kepercayaan

SERANG – Hasil Pemilu 2019 DPRD Kota Serang cukup mengejutkan. Banyak caleg petahana yang tidak bisa mempertahankan suaranya alias tumbang.

Catatan Radar Banten berdasarkan hasil pleno rekapitulasi KPU Kota Serang, dari 35 caleg petahana yang kembali maju, hanya 15 petahana yang kembali terpilih. Sebanyak 20 caleg petahana harus tumbang dengan wajah-wajah caleg baru.

Praktis dari 45 kuota kursi, sebanyak 30 wajah baru bakal menduduki kursi Dewan di Ibukota Banten ini. Sebagian petahana itu tumbang karena kalah bersaing dengan rival di internal partai. Sebagian lagi, tumbang karena kursinya tergeser dari caleg partai lain.

Misalnya, dua petahana PDIP yang gagal mempertahankan kursinya. Yakni, Kevin Harunisa di dapil Cipocokjaya dan Ujang Syafrudirman di dapil Kasemen. Sedangkan M Ali Surohman yang pada Pemilu 2014 terpilih di dapil Serang 2, kalah bersaing dengan rival separtainya yang sesama petahana Bambang Janoko di dapil Serang 1. Lalu, petahana PPP Uhen Juheni yang kursinya diambil partai lain.

Sementara di dapil Serang 1 petahana PKS Maryaman harus tumbang dengan rival separtainya Hasan Basri yang merupakan ketua DPD PKS Kota Serang. Hal yang sama dialami petahana PKS di dapil Serang 2 Iyus Gusmana yang dikalahkan rival separtainya Nur Agis Aulia.

Petahana Gerindra di dapil Serang 2 Eka Suryana juga harus digeser rival separtainya Rizky Kurniawan. Begitu juga petahana di Curug Walantaka Halason Simbolon yang harus tumbang dari Saefullah dan Babay Sukardi. Padahal di dapil ini, Gerindra mendapatkan dua kursi.

Dua petahana Partai Golkar juga ada yang tumbang karena persaingan di internal partai. Yakni, Imron Lathife yang kalah dari Zainal Abidin Machmud di dapil Serang 1 dan Agus Sutisna kalah dari Muji Rohman dan Eddy Setiadi di dapil Kasemen. Padahal di dapil itu, Golkar mendapatkan dua kursi.

Pengamat politik Suwaib Amiruddin menilai, fenomena banyaknya petahana tumbang dalam bursa Pemilu 2019 di Kota Serang disebabkan tiga faktor. Pertama, banyak caleg baru yang lebih progresif atau ngotot dengan modal sosial yang lebih besar.

“Petahana lupa bahwa penantang baru sudah mengumpulkan modal sosial jauh-jauh hari,” katanya kepada Radar Banten, Senin (13/5).

Para penantang, lanjut Suwaib, juga lebih progresif turun ke basis masyarakat. Sedangkan petahana yang mestinya bisa memanfaatkan aksesnya sebagai anggota Dewan justru tidak memanfaatkan dengan baik.

“Di sini saya melihat petahana atau yang kini menjabat sebagai anggota Dewan gagal membangun kedekatan dan program dengan masyarakat,” ujarnya.

Pendiri Suwaib Amiruddin (SAF) Foundation itu mengatakan, para anggota Dewan dalam menjalankan tugas kedewanannya kepada masyarakat hanya sebatas seremonial melalui serap aspirasi (reses) semata. Padahal, yang lebih penting membangun berdasar sosial kultural masyarakat.

“Karena itu, ada arus atau keinginan perubahan dari masyarakat terhadap sosok-sosok baru,” katanya.

Banyaknya calon baru yang terpilih, kata Suwaib, menunjukkan ada ekspektasi yang besar dari masyarakat terhadap wajah baru. Hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi anggota Dewan yang terpilih. “Mereka (yang terpilih) harus benar-benar melaksanakan janji politiknya. Jika tidak, ini akan menurunkan citra Dewan secara kelembagaan,” cetusnya. (ken/alt)