JAKARTA – Perkembangan teknologi nirkabel begitu cepat. Tidak hanya dari segi handset tapi juga jaringan. Akibatnya, perlu ada perubahan secara bersamaan untuk saling mendukung di antara handset dan penyedia jaringan demi kebutuhan konsumen.

Perkembangan teknologi ini juga berbanding lurus dengan prilaku konsumen. Dari data Ericsson Mobility Report menyebutkan bahwa basic phone yang fungsinya hanya untuk mengirim pesan pendek dan panggilan akan mulai ditinggalkan.

“Jumlah pelanggan smartphone akan melebihi pelanggan basic phone pada tahun 2016,” VP Marketing And Communications Ericsson Indonesia, Hardyana Syintawati di Jakarta, Senin (23/6).

Hardyana mengatakan perkiraan ini didasarkan pada data penjualan handset pada triwulan pertama tahun 2014 secara global. Penjualan telepon pintar sudah mencapai 65 persen dari semua telepon seluler.

Tahun 2019, diperkirakan pengguna smartphone mencapai 5,6 miliar. Sementara di Eropa, pelanggan smartphone akan mencapai 765 juta pada tahun 2019 sehingga penambahan itu akan melebihi jumlah penduduk.

Bagaimana dengan kawasan Asia Tenggara dan Oseania? Peningkatan pengguna smartphone justru melambat hanya dengan 20 persen. Tapi ini hanya berlaku di negara berkembang seperti Indonesia dan Filipina.

“Mungkin pemahaman masyarakat akan pentingnya internet dan termasuk infrastruktur jaringan juga menjadi penyebab. Termasuk kultur masyarakat setempat,” kata Hardyana.

Sementara negara yang sudah maju seperti Australia dan Singapura, penetrasi smartphone sudah melebihi 60 persen.

Walaupun begitu, dengan adopsi Smartphone di kawasan Asia Tenggara, pengguna justru diprediksi akan meningkat secara dramatis di tahun mendatang. Pelanggan smartphone tumbuh hampir lima kali antara tahun 2013 dan 2019. Dengan akhir periode ini akan ada lebih dari 700 juta langganan smartphone di wilayah tersebut. (awa/jpnn)***