SERANG – Merebaknya komunitas lesbian, gay, bisexual, dan transgender (LGBT) di Kota Serang sebagai ibukota Provinsi Banten mulai menebar ancaman penyakit. Dari komunitas tersebut, Dinas Kesehatan Kota Serang menemukan kasus human immunodeficiency virus (HIV) yang berpotensi memicu acquired immune deficiency syndrome (AIDS).
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Serang Toyalis membenarkan bahwa Kota Serang tidak lepas dari komunitas LGBT. Bahkan, jumlah anggotanya mencapai seratus orang lebih. “Memang ada LGBT di Kota Serang dan jumlahnya ada seratus lebih. Tapi, itu bukan hanya warga Serang asli, ada juga yang dari luar,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin, seperti dilansir Harian Radar Banten.
Akan tetapi, persinggungan Dinkes dengan komunitas tersebut lebih pada soal kesehatan. Sebab, komunitas tersebut masuk pada salah satu kelompok yang rentan terserang penyakit menular. Dinkes biasa mengumpulkan mereka untuk melakukan sosialisasi kesehatan reproduksi dan penyakit menular lainnya seperti HIV AIDS dan infeksi menular seksual (IMS).
Dari pemeriksaan tersebut, Toyalis mengaku menemukan satu kasus HIV AIDS pada komunitas LGBT. “Awal tahun kita ada sosisalisasi dan pemeriksaan VCT untuk 200 orang, mulai dari PSK, waria, laki suka laki atau LSL, dan hasilnya dari 15 LSL yang ikut datang, ada satu orang yang dinyatakan positif,” ungkapnya.
Toyalis mengatakan bahwa pengidap HIV AIDS di Kota Serang secara kumulatif sejak 2007 hingga 2016 sudah mencapai 283 kasus. Untuk tahun ini, pihaknya mencatat ada sekira 20 kasus baru. “Penyebabnya penularan dari seks masih nomor wahid. Mungkin termasuk LSL yang positif itu,” katanya.
Oleh karena belum ada obat yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia itu, Dinkes hanya bisa melakukan pencegahan penularan. Untuk pengidap, diberikan konseling secara rutin dan pemberian obat antiretroviral untuk menghambat perkembangan virus. “Kalau sudah, ya tidak bisa diobati makanya hanya bisa meminimalkan perkembangan virus saja. Makanya, harus masyarakat yang mencegah dan setia pada pasangan,” katanya.
Kepala Bidang P3KL Dinkes Kota Serang Ella Mey Delena membenarkan hal tersebut. Kata dia, dari kasus kumulatif yang ada secara perinci terdiri atas 82 orang HIV, 156 AIDS, dan meninggal dunia 58 orang. Sementara, data Januari sampai April 2016, ada lima kasus AIDS dan 15 HIV. “Totalnya 20 orang dan meninggal dunia dua orang,” katanya.
Ella mengaku terus menyisir berbagai tempat untuk melakukan pemeriksaan terhadap masyarakat yang dinilai rentan tertular. “Terakhir ini kita periksa di empat titik, di antaranya di wilayah Terminal, Pakupatan, stadion, Kasemen. Termasuk kita undang langsung yang kita temukan kasus baru positif laki suka laki itu,” katanya.
Menurutnya, pemutusan penularan HIV AIDS harus dilakukan serentak. “Kalau PSK atau waria sudah positif, tentu kan bisa menularkan kepada orang yang berhubungan badan dengannya. Makanya, penanganannya harus bersama masyarakat dan dinas terkait. Termasuk BNN untuk pengguna penasun atau suntik,” tambahnya. (Supriyono/Radar Banten)









