Air setinggi mata kaki menggenang Tanjungburung, Teluknaga, Senin (5/2).

TANGERANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang mencatat sejak Januari hingga Desember 2017 sebanyak 202 bencana terjadi di kota seribu industri tersebut. Bencana didominasi oleh kebakaran yakni 162 kejadian. Sementara, 40 kejadian lainnya adalah bencana alam. Kerugian materil ditaksir mencapai Rp43 miliar.

Kepala BPBD Kabupaten Tangerang Agus Suryana menuturkan, kebakaran didominasi kawasan pergudangan, home industri, lapak limbah dan perumahan. Adapun pemicunya paling banyak adalah arus pendek sebanyak 77 kali. Lalu tabung gas sebanyak empat kali. ”Kemudian, pemicu kebakaran ada pula dari rokok. Jumlahnya ada enam kali. Ini hati-hati bagi perokok yang sering buang puntung sembarangan,” terangnya Senin (5/2).

Lalu bencana alam terjadi didominasi banjir sebanyak 18 kali. Angin puting beliung satu kali dan lain-lain enam kali. ”Total bencananya ada 40 kali peristiwa bencana,” jelasnya.

Untuk kesiapan banjir sendiri, BPBD sendiri telah memiliki 206 perahu karet yang dikerahkan di 22 pos. Agus menjelaskan, dari 202 bencana baik kebakaran dan bencana alam mengakibatkan sejumlah kerugian dan korban jiwa. ”Untuk korban jiwa ada 48 orang meninggal dunia dan luka-luka berjumlah 62 jiwa,” terangnya.

Untuk, BPBD mulai merangkum sejumlah titik daerah rawan banjir. Seperti kawasan yang dialiri Sungai Cimanceuri seperi Kecamtan Kresek dan Kronjo. Lalu Kampung Dadap Ceng In, Kelurahan Dadap, Kecamatan Kosambi yang menjadi langganan banjir rob (air pasang-red). ”Untuk siaga banjir rob, kita juga menyediakan perahu karet di Kosambi,” katanya.

Masalah banjir rob di Dadap memang menjadi pekerjaan rumah bersama. Desember 2017 lalu, air laut melumpuhkan aktivitas masyarakat di RT 02, 03 dan 04 di RW 02, Kelurahan Dadap. Air juga masuk ke sejumlah SD dan masjid di kawasan eks lokalisasi tersebut.

Dari data yang dihimpun, selain akibat siklon Dahlia, banjir tersebut dipengaruhi ambrolnya tanggul penahan banjir di Muara Angke, DKI Jakarta. Daerah yang paling parah terdampak adalah kawasan bantaran kali mulai dari Restoran Dermaga hingga ke Pergudangan Dadap.

Salah satu tokoh masyarakat Dadap Waisul Kurnia menjelaskan, Ketinggian air banjir mencapai 30-50 sentimeter. Selain air, lumpur berwarna hitam juga ikut terbawa masuk ke rumah warga. ”Banjirnya bisa setiap bulan mas, ya kalau sudah begini mending kami di dalam rumah saja,” terangnya.

Meski demikian, banjir air laut pasang telah menjadi santapan warga setiap tahunnya. Hampir setiap air pasang, mereka harus membersihkan rumah dari lumpur hitam yang terbawa arus air dari laut. Dikatakannya, kondisi banjir rob menggenangi jalan dan pemukiman di Dadap mulai memprihatinkan karena ketinggian air sudah mencapai lutut orang dewasa di sejumlah titik, dan juga menghambat aktivitas ekonomi warga, berkendara di jalan umum. (Wahyu/RBG)