2019, Kasus Kebakaran di Cilegon Meningkat

CILEGON – Selama 2019, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Cilegon mencatat telah terjadi 170 kebakaran. Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan 2018 sebanyak 101 kebakaran.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Cilegon Nikmatullah menjelaskan, selama dua tahun terakhir lebih dari 50 persen kasus berupa kebakaran lahan alang-alang.

“Tahun 2019 kebakaran alang-alang, hutan, atau lahan kosong sebanyak 82 kali. Waktu ini angkanya lebih tinggi karena musim kemarau terjadi lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Nikmatullah, kemarin.

Jumlah kerugian akibat kebakaran pun meningkat. Pada 2019, kerugian akibat kebakaran mencapai Rp8,163 miliar, sedangkan 2018 sebanyak Rp7,366 miliar. Menurut Nikmatullah, pada musim kemarau, alang-alang dan lahan kosong menjadi sangat mudah terbakar. “Pemicunya kecil seperti membuang puntung rokok atau membakar sampah,” jelasnya.

Bahkan, untuk beberapa kasus, pihaknya menduga dari kebakaran alang-alang atau lahan kosong merambah menjadi kebakaran gedung. Misalnya terjadi di Kecamatan Pulomerak di mana satu lokal gedung SMP 10 hangus terbakar.

Selain alang-alang sepanjang 2019, api pun melahap bangunan seperti rumah, kontrakan, mes, ruko, industri, tempat pembuangan sampah, kabel, perkantoran, dan kendaraan alat berat dan sejenisnya. Jika alang-alang, hutan atau lahan kosong dipicu oleh kemarau, pembakaran sampah, serta bekas puntung rokok, untuk gedung seperti perkantoran, sekolah, rumah pribadi, dan kontrakan dipicu oleh arus pendek listrik. “Kalau industri dipicu oleh material industrinya. Selain faktor-faktor itu ada faktor X yang tidak bisa kita atasi, yaitu faktor Yang Maha Kuasa,” ujarnya.

Guna mengantisipasI terjadinya kebakaran, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyalamatan sepanjang 2019 pun kerap melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait hal-hal yang harus dilakukan dan harus dihindari selama musim kemarau.

Menurutnya sosialisasi itu dilakukan baik di kalangan pelajar maupun masyarakat umum. “Misalnya memperhatikan instalasi listrik, kalau mau meninggalkan rumah harus memastikan listrik-listrik itu telah mati, tidak ada kompor yang menyala,” ujarnya.

Kasi Operasi Pemadam Kebakaran Nanung Eko Siswanto menambahkan, pada 2019, dari 170 kejadian, secara rinci objek yang terbakar adalah empat industri, satu gedung perkantoran, dua bangunan kosong, dua sekolah, 21 rumah tinggal atau kontrakan atau mes, 11 ruko atau kios atau lapak, 82 lahan alang-alang, serta tujuh kasus limbah.          

Kemudian yang tak kalah menyita perhatian adalah 18 kasus kebakaran tempat pembuangan sampah, dua kebakaran pohon, kebakaran sepuluh kabel listrik, serta kebakaran enam kendaraan alat berat. “Pada 2018, objek yang terbakar pun sama,” tuturnya.

Agar kejadian serupa tak kembali terjadi atau dapat diminimalisasi pada tahun ini, Eko meminta masyarakat untuk waspada. Misalnya dengan tidak membakar sampah jika tak diawasi, memastikan aliras listrik padam saat meninggalkan rumah, dan segala hal yang berpotensi jadi penyebab kebakaran. (bam/ibm/ira)