Harapannya ke depan, informasi tersebut dapat diterima melalui via whatshapp. Sekalipun tidak harus disampaikan kepada semua warga akan tetapi informasi itu bisa diterima sampai ke tingkat RT.
“Saya rasa itu penting dilakukan agar warga mendapatkan informasi yang update. Kalau sekarang kami diselimuti rasa cemas Gunung Anak Krakatau meletus dan terjadi bencana tsunami,” katanya.
Sebagai upaya antisipasi, pihaknya bersama warga lain memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau serta permukaan air laut.
“Permukaan air laut terus dipantau karena kami memiliki rasa trauma akan bencana tsunami,” katanya.
Ketua Forum Kampung Siaga Bencana (KSB) Kabupaten Pandeglang Beni Madrisa mengatakan, berdasarkan sumber data diterima dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bahwa Gunung Anak Krakatau teramati beberapa kali letusan dengan tinggi 50-1500 meter dengan dan kolom abu warna asap putih, kelabu, dan hitam.
“Pada malam hari teramati letusan strombolian (semburan lava pijar) dengan tinggi 50-200 meter secara terus-menerus. Dengan status saat ini masih level II,” katanya.
Beni mengungkapkan, letusan strombolian mengeluarkan suara keras yang terdengar sampai ke pesisir pantai Pandeglang bagian selatan. Mulai dari Pantai Carita, Labuan, Panimbang, Cimanggu, sampai ke Sumur.
“Anggota KSB juga terus melakukan pemantauan. Semoga saja ini hanya aktivitas biasa tidak sampai menimbulkan bencana,” katanya.











