“Kalo untuk produksi kita biasanya nunggu pesanan. Untuk bahan baku kita beli dari pabrik kayu setempat dan untuk harga jual tergantung jenis kayu dan ukuran juga,” katanya.
Kalau harga miniatur badak dari rumah produksi Congo Pangot berkirsar Rp50-350 ribu per biji. Jadi disesuaikan ukuran dan jenis kayu digunakan.
“Untuk penjualan kita biasanya melalui relasi yang ada di dinas dan via medsos. Kalau dulu, sebelum pandemi Covid-19, pernah juga kita kirim ke Australia melalui teman,” katanya.
Waktu pengiriman ke Australia melalui teman itu pesanan sebanyak dua biji. Pesanan itu terjadi sudah lama tepatnya sebelum terjadi bencana tsunami dan pandemi.
“Untuk pengiriman ke Luar Negeri, baru ke Australia. Sedangkan kalau ke luar daerah biasanya hasil karya kita dibawa oleh dinas jika ada kunjungan kerja atau study banding dengan daerah lain,” katanya.
“Selain dari dinas provinsi pesanan juga datang dari Pemkab Pandeglang. Alhamdulillah kebetulan kita binaan Diskoperindag Pandeglang. Dulu dulu dari Dinkop juga sering komunikasi dan ada juga orderan,” katanya.
Yopi mengaku, kalau dirinya waktu dulu peran mengusulkan kepada Bupati Pandeglang Irna Narulita melalui Diskoperindag, mengingat badak cula satu ini adalah iconya Pandeglang mohon kiranya menginstruksikan kepada seluruh OPD yang ada di Pandeglang tanpa terkecuali untuk memiliki miniatur ukiram kayu Badak Bercula Satu atau Badak Jawa. Saat itu usulannya disetujui.









