SERANG, RADARBANTEN.CO.DI – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Serang menggelar pelaksanaan simulasi pemungutan dan penghitungan suara. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk memberikan pemahaman dan pendidikan kepada masyarakat terkait pelaksanaan pemilu 2024.
Ketua KPU Kabupaten Serang Muhammad, Nasehudin mengatakan, pelaksanaan simulasi yang dilaksanakan di TPS 03 Desa Cinangka, Kecamatan Cinangka tersebut bertujuan untuk memastikan apakan masyarakat dan panitia tingkat TPS sudah siap untuk melaksanakan pemilu pada tanggal 14 Februari 2024 mendatang.
“Simulasi ini kan berkaitan dengan pemahaman pemilih, simulasi ini juga bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pemilih berkaitan dengan teknik pemungutan dan penghitungan suara apakah mereka selama ini sudah memiliki pemahaman nanti kita potret hasil ini berapa yang sah dan tidak sah, kemudian termasuk teknis KPPS nya sejauh mana mereka melakukan tugas secara efektif dengan waktu yang cepat,” katanya saat ditemui usai pelaksanaan simulasi, Rabu 31 Januari 2024.
Menurutnya, pelaksanaan simulasi sendiri dapat menjadi tolak ukur untuk melihat sejauh mana tingkat partisipasi masyarakat untuk menyalurkan hak pilihnya.
“Simulasi bagian dari pada sosialisasi kepada masyarakat, berkaitan dengan partisipasi masyarakat, ini simulasi real DPT nya ada berapa kemudian kita liat dari TPS ini kan TPS tiga Desa Cinangka jumlah 273 apakah itu semuanya hadir kita liat. Oleh karen itu, beberapa poin yang bisa kita dapatkan satu berkaitan dengan sosialisasi, kedua mendorong partisipasi masyarakat,” jelasnya.
Berdasarkan pelaksanaan simulasi yang dilakukan di TPS 03 tersebut, pihaknya mendapati gambaran terkait waktu rata-rata masyarakat menyalurkan hak pilihnya di TPS.
“Satu orang tiga sampai lima menit, kalau itu ada empat kotak bisa cepat, yang penting ketika diberikan pemberitahuan mereka ini harus cepat datang,” pungkasnya.
Dalam pelaksanaan simulasi yang dilakukan tersebut, pada surat suara presiden ada sebanyak empat pasangan calon yang simulasi kan oleh KPU. Menurutnya hal itu sengaja dilakukan agar menghindari adanya tendensi negatif terhadap hasil pelaksanaan simulasi.
“Khawatir kalau pakai tiga calon nanti hasil simulasinya terkesan condong ke salah satu calon. Makanya kita antisipasi itu supaya nanti tidak muncul polemik,” pungkasnya. (*)
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani
Editor: Aditya











