SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Beras premium langka di Banten. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Banten pun mengajak masyarakat untuk mengonsumsi beras Bulog.
Kepala Disperindag Provinsi Banten, Babar Soeharso, mengatakan, beras saat ini langka karena musim tanamnya telat.
“Baru tanam Januari, harusnya November dan Desember,” ujar Babar di Pendopo Gubernur Banten, KP3B, Senin, 26 Februari 2024.
Kata dia, akibat musim tanam dan panen terlambat, pasokan beras di pasaran kurang. Sementara, beras yang diminati berasal dari gabah lokal.
“Dan itu kurang,” ungkapnya.
Babar mengaku, harga gabah saat ini tinggi di pasaran. Yakni, Rp 8 ribu.
“Kalau hitungan pasar, apabila gabah Rp 8 ribu, maka harga berasnya dua kali yakni Rp 16 ribu. Jadi wajar kalau di pasaran Rp 16 ribu. Di Banten, gabahnya kurang,” tuturnya.
Ia mengatakan, Pemprov Banten melakukan upaya dengan mencoba mengendalikan harga dengan beras impor, yakni SPHP.
“Sekarang itu sudah mulai diminati. Dengan harga pasar yang tinggi, masyarakat sudah mau mengonsumsi SPHP Bulog,” ujarnya.
Babar mengatakan, dulu warung SPHP terbatas, hanya di pasar. Saat ini, diperluas yang awalnya hanya di Pasar Induk Rau dan Pasar Lama, sekarang diupayakan di kecamatan-kecamatan.
“Kerja sama dengan BUMD Warung Banten,” terangnya.
Harga beras SPHP sendiri yakni Rp 10.900 per kilogram atau Rp 54.500 per lima kilogram. Harga itu pun standar dan tidak boleh lebih.
“Stok beras tiga bulan ke depan cukup. Cuma distribusinya harus ditambah ketika sekarang beras lokal kurang,” ungkap Babar.
Sedangkan, beras lokal masuk premium, padahal beras medium banyak tapi dari Bulog.
“Mudah-mudahan masyarakat bisa menyikapinya. Beralih sementara ke beras Bulog supaya harganya stabil sambil menunggu panen bulan Maret,” tuturnya. (*)
Editor: Agus Priwandono











