LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Puluhan relawan dari tiga desa tangguh bencana atau Destana di Kecamatan Bayah mengikuti sosialisasi tsunami ready yang digelar di sekretariat Gugus Mitigasi Lebak Selatan atau GMLS di villa Hejo, Kaiara Payung, Panggarangan, Sabtu 31 Agustus 2024.
Sosialisasi tsunami ready ini kolaborasi antara GMLS dengan Forum Pengurangan Resiko Bencana atau FPRB.
“Ya, mengantisipasi bahaya gempa megathrust di selat sunda yang berpotensi terjadinya tsunami, kita memberi pembekalan kepada para relawan kebencanaan di tiga destana yang memang rawan bencana stunami. Tiga destana itu desa sawarna, Bayah Barat dan Desa Situregen,” kata ketua GMLS Abah Lala, Minggu 31 Agustua 2024.
Menurutnya, pembekalan mengenai 12 indikator tsunami ready perlu dilakukan kepada para relawan destana, karena 12 indikator stunami ready adalah sebuah patokan standar lembaga dunia Unesco yang menetapkan indikator-indikator apa yang perlu dipenuhi oleh masyarakat atau desa dalam menghadapi kesiapsigaan menghadapi bencana tsunami.
“Tentunya, kita semua tidak ingin bencana itu benar-benar datang. Tapi, memang kita perlu bersiap siaga,” katanya.
Dia mengatakan, masyarakat yang tinggal didaerah rawan bencana tsunami mesti memiliki kemampuan untuk melakukan penyesuaian diri ketika dihadapkan pada situasi yang tidak diharapkan.
“Hubungannya dengan kebencanaan adalah apabila terjadi bencana, masyarakat diharapkan memiliki kemampuan untuk kembali pulih secara cepat dari kerusakan yang terjadi akibat bencana tersebut,” jelasnya.
GMLS lahir dari sebuah inisiatif masyarakat yang bertujuan untuk membangun masyarakat Lebak Selatan, yang siaga dan tangguh dalam menghadapi bencana ini dibentuk 13 Oktober 2020 terus berkolaborasi dengan 28 kolaborator yang bergerak di berbagai bidang dan telah mewujudkan Tsunami Ready Program di wilayah Lebak Selatan yang diukur melalui 12 Tsunami Ready Indicators.
“Saat ini, GMLS menginisiasi Community Resilience Program di wilayah Lebak Selatan bersama kolaborator dan perguruan tinggi dari berbagai negara,” imbuhnya.
Ditambahkan Resty Yulyani General Afairs GMLS, kolaborasi dilakukan GMLS dengan beberapa institusi. Dengan U-Inspire Indonesia misalnya, dilakukan pendampingan pemodelan dan peta inundasi Desa Panggarangan, menyediakan fasilitas teknologi online meeting, memperluas jejaring kemitraan GMLS dengan lembaga lain di Indonesia dan pelatihan relawan GMLS.
“GMLS juga telah mendapatkan apresiasi dan penghargaan dari banyak pihak, di antaranya National Tsunami Ready Board atau NTRB Indonesia dan penganugerahan status Tsunami Ready oleh International Oceanographic Commission UNESCO atau IOC-UNESCO,” katanya.
GMLS juga kini telah memiliki Warning Receiver System atau WRS Ina Tews yang merupakan alat peringatan gempa bumi dan tsunami.
“WRS Ina Tews ini merupakan hibah dari Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika atau BMKG dan satu-satunya komunitas kebencanaan se Indonesia yang mendapat hibah,” katanya.
Editor: Abdul Rozak











