SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Para pedagang yang selama ini berjualan di sempadan rel kereta api dekat Stadion Maulana Yusuf, Kota Serang, mulai angkat bicara soal penggusuran yang baru saja mereka alami.
Salah satunya adalah Nasrul, pedagang nasi yang mengaku sudah berjualan di sana sejak tahun 2012. Ia menempati kios yang statusnya kontrak. Bahkan, demi bisa tetap berjualan, ia rela merogoh kocek cukup dalam.
“Bangunan ini saya beli seharga Rp 60 juta. Belum satu tahun sudah digusur. Kami memang hanya membeli bangunannya, bukan tanahnya, tapi tetap saja tidak ada tanggung jawab dari pihak yang menjual,” kata Nasrul, saat ditemui di lokasi.
Menurutnya, meski tanpa surat perjanjian resmi atau izin mendirikan bangunan, para pedagang merasa cukup yakin bisa berdagang dengan aman di lokasi itu. Keyakinan tersebut ternyata tak bertahan lama.
“Saya tahu lahan ini milik PT KAI, tapi teguran yang diberikan terlalu cepat. Dalam satu bulan, kami mendapat tiga kali teguran tanpa waktu yang cukup untuk bersiap pindah,” ujarnya.
Sebenarnya, Pemkot Serang sempat menawarkan solusi berupa relokasi ke dua titik alternatif, yaitu di Kepandean dan Pasar Lama. Namun, menurut Nasrul dan sejumlah pedagang lainnya, tempat baru itu belum layak digunakan.
“Tenda yang disediakan tidak bisa digunakan secara maksimal. Pagi dipasang, sore dibongkar. Kami jadi bingung harus ke mana. Daripada seperti itu, lebih baik saya pulang atau jual habis barang dagangan,” tuturnya, pasrah.
Editor : Merwanda











