PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Wakil Bupati Pandeglang Iing Andri Supriadi mengungkap fokus pembangunan pendidikan dan infrastruktur demi wujudkan SDM unggul dan Pandeglang mandiri.
Nama Iing Andri Supriadi kini dikenal sebagai Wakil Bupati Pandeglang periode 2025–2030. Namun, perjalanan politiknya bukanlah instan. Ia memulai kiprah dari dunia aktivis mahasiswa sebelum akhirnya masuk ke jalur legislatif dan kini ke eksekutif.
“Mayoritas masyarakat hanya melihat saya saat sudah berada di atas. Padahal perjalanan saya ke atas itu penuh perjuangan,” ungkap Iing dalam wawancara eksklusif pada program Radar Banten Podcast yang dipandu Krisna Widi Aria.
Berawal dari Aktivis HMI di Bandung
Iing mengawali aktivismenya saat kuliah di Bandung. Ia bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan aktif berdiskusi serta menyuarakan kritik kepada pemerintah daerah. Dari sanalah idealisme tumbuh.
“Kami sadar, menyuarakan dari luar sistem sering kali tidak cukup. Maka saya memutuskan masuk ke dalam sistem pemerintahan,” jelasnya.
Pada 2014, Iing mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Pandeglang dan berhasil duduk di legislatif. Ia terpilih kembali di 2019 dengan peningkatan suara yang signifikan. Selama 10 tahun, ia aktif di Komisi III yang membidangi infrastruktur.
Tantang Era Efisiensi Anggaran
Kini, bersama Bupati Raden Dewi Setiani ia dipercaya rakyat untuk memimpin Kabupaten Pandeglang.
Baru beberapa minggu menjabat, Dewi–Iing langsung menghadapi tantangan besar. Pemerintah pusat merilis Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 dan Keputusan Menteri Keuangan (KMK) yang menarik kembali DAK (Dana Alokasi Khusus) senilai Rp107 miliar.
“Ini pukulan berat, tapi kami tidak tinggal diam. Kami terus mencari solusi agar pembangunan tetap berjalan,” ujar Iing.
Salah satu fokus utama Iing Andri Supriadi sebagai Wakil Bupati adalah sektor pendidikan. Ia menyebut pendidikan sebagai investasi jangka panjang dalam menyongsong bonus demografi dan menyukseskan visi Indonesia Emas 2045.
“Bonus demografi hanya bisa dinikmati jika SDM kita unggul. Maka kami fokus ke pendidikan sejak awal,” katanya.
Dari hasil penyisiran anggaran, Pemkab Pandeglang mengalokasikan sekitar Rp70 miliar untuk perbaikan dan pembangunan sekolah, mulai dari PAUD, TK, SD hingga SMP.
“Ada sekitar 1.000 sekolah di Pandeglang, dan sekitar 30% dalam kondisi rusak,” jelasnya.
Selain pendidikan, Iing juga menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Pemkab Pandeglang kini telah membentuk Satgas PAD dan Satgas Perizinan untuk mengoptimalkan sektor-sektor pendukung seperti pariwisata, perhotelan, restoran, hingga UMKM.
“Kami ingin Pandeglang bisa mandiri secara fiskal. Di 2026, kami targetkan sudah bisa take-off secara optimal,” ujar Iing.
Kepemimpinan Tanpa Libur
Iing menegaskan bahwa ia dan Bupati Dewi Setani tak mengenal hari libur. Bahkan di akhir pekan dan hari besar, mereka tetap turun ke lapangan menyapa masyarakat.
“Tugas pemimpin itu berat. Tapi kami yakin, dengan kerja keras dan doa, Pandeglang bisa maju,” katanya.
Menurut Iing, pembangunan Pandeglang tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah daerah. Ia mengajak semua pihak, mulai dari akademisi, media, pelaku usaha, hingga masyarakat untuk berkolaborasi membangun Pandeglang dalam kerangka pentahelix.
“Membangun Pandeglang harus keroyokan. Ini tanggung jawab kita semua,” tegasnya.
Di akhir wawancara, Iing menyampaikan harapannya agar seluruh program dan cita-cita masyarakat bisa direalisasikan dalam lima tahun kepemimpinannya.
“Harapan masyarakat adalah harapan kami juga. Kami akan berjuang semaksimal mungkin mewujudkannya,” tegasnya.
Editor: Mastur Huda











