PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Soal pungutan liar (Pungli) di Kabupaten Pandeglang ternyata masih marak, terlebih saat menuju ke sejumlah destinasi wisata.
Hal itu disampaikan Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Pandeglang, Rosy Sukmawaty.
Rosy Sukmawaty mengungkapkan, pihaknya mengaku menerima banyak laporan maraknya keluhan wisatawan soal pungutan liar (pungli) saat menuju ke sejumlah destinasi wisata. Ia menyebut, praktik ini membuat wisatawan merasa tidak nyaman dan enggan kembali berkunjung ke Pandeglang.
“Keluhannya itu biasa datang dari desa-desa atau perusahaan wisata. Banyak wisatawan yang merasa tidak nyaman saat menuju destinasi karena adanya pungutan-pungutan di jalan,” kata Rosy, Kamis 24 Juli 2025.
Menurutnya, pungutan tersebut bermacam-macam modusnya. Ada yang berdalih untuk perbaikan jalan, pembangunan jembatan, atau bahkan sumbangan untuk masjid.
“Modusnya macam-macam, bilangnya untuk kesejahteraan masyarakat atau perbaikan infrastruktur. Tapi yang disayangkan, itu dilakukan di beberapa titik yang justru bikin perjalanan jadi tidak nyaman,” jelas Rosy.
Ia mencontohkan, saat perayaan HUT Carita kemarin, masih ada pungutan liar di jalur Jiput-Carita. Bahkan, ada tiga titik yang meminta sumbangan masjid dalam jarak kurang dari satu kilometer.
“Bayangkan, belum satu kilometer sudah tiga kali dimintai sumbangan. Ini yang harus segera ditertibkan. Jangan sampai wisatawan merasa kapok datang ke Pandeglang,” ujarnya.
Selain pungutan, kondisi infrastruktur menuju destinasi juga masih jadi sorotan. Meski sejumlah akses jalan ke pantai sudah mulus, Rosy berharap seluruh jalur wisata bisa ditingkatkan kualitasnya.
“Yang punya wilayah, minimal kepala desa, bisa himbau masyarakatnya agar tidak melakukan pungutan seperti itu. Karena ini sangat mengganggu kenyamanan wisatawan,” katanya.
Rosy menekankan pentingnya membangun citra Pandeglang sebagai daerah tujuan wisata yang ramah dan bersahabat. Ia berharap masyarakat bisa menjadi bagian dari standar wisata yang baik, termasuk menyambut tamu dengan bahasa dan sikap yang santun.
“Kalau kita terapkan standar wisata dengan benar, maka kesan wisatawan akan baik. Jangan sampai destinasinya disebut surga, tapi akses menuju ke surganya malah bikin kapok,” tuturnya.
Ia juga menyebut mayoritas wisatawan yang datang ke Pandeglang berasal dari luar daerah, seperti Serang, Cilegon, Tangerang, bahkan Lampung. Oleh karena itu, menjaga kenyamanan dan kesan positif wisatawan menjadi tugas bersama.
“Harapannya tentu infrastruktur menuju destinasi diperbaiki, pungutan liar ditertibkan, dan masyarakat jadi tuan rumah yang ramah. Dengan begitu, wisatawan akan terus berdatangan ke Pandeglang,” pungkasnya.
Editor: Abdul Rozak











