KOTA TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Kota Tangerang Selatan membidik target ambisius: nol kasus stunting pada 2026. Tapi Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan, mengingatkan keras target ini tidak akan tercapai jika penanganan masih dilakukan secara sektoral dan penuh ego kelembagaan.
“Kita harus sama-sama menangani masalah stunting ini. Jadi tidak ada lagi ego sektoral, misal saya dari dinas kesehatan, saya dari dinas perempuan dan anak, saya dari organisasi ini itu. Penanganan stunting harus satu tim, solid semua hingga lurah dan camat bergerak,” tegas Pilar, Sabtu 13 September 2025.
Pernyataan tegas ini disampaikan dalam forum koordinasi lintas sektor yang dihadiri berbagai pihak. Pilar menyoroti bahwa stunting bukan sekadar urusan gizi, tapi juga soal ketimpangan ekonomi dan minimnya kesadaran lapangan.
Pilar menegaskan bahwa deteksi dan intervensi stunting harus dimulai dari ibu hamil, dan pemantauan harus dilakukan hingga tingkat RT/RW.
“Stunting ini adalah masalah serius, bukan sekadar angka penilaian. Jangan sampai ada keluarga di Tangsel yang tertinggal hanya karena masalah gizi. Penanganannya harus sejak dari ibu hamil,” ujarnya.
Ia meminta camat, lurah, hingga ketua RT dan RW tidak hanya pasif menunggu laporan, tapi proaktif memantau kondisi warga.
Pilar menyampaikan bahwa upaya menekan angka stunting tak cukup dilakukan di atas kertas atau sekadar memenuhi laporan administratif.
“Kalau tahun depan kita masih menemukan kasus baru, artinya kita abai. Kita harus buktikan Tangsel bisa keluar dari radar isu stunting. Sebagai kota maju, masalah ini seharusnya sudah selesai,” katanya.
Acara publikasi dan koordinasi stunting ini dihadiri oleh jajaran OPD, organisasi profesi kesehatan, kader posyandu, PKK, dan sejumlah stakeholder lain. Pilar menyebut kehadiran mereka adalah bukti nyata bahwa penanganan stunting harus melibatkan semua pihak, tanpa kecuali.
Editor : Merwanda











