SERANG,RADARBANTEN.CO.ID- Sebanyak 452 anak di Kabupaten Serang terjangkit penyakit TBC.
Data tersebut berdasarkan hasil pemeriksanaan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang terhadap 25.388 orang yang terindikasi terjangkit penyakit TBC.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinkes Kabupaten Serang Istianah Hariyanti mengatakan, Pemkab Serang telah memiliki Peraturan Bupati (Perbup) untuk penanggulangan TBC dan HIV/AIDS.
“Karena memang dua penyakit tersebut masih menjadi masalah kesehatan yang cukup besar di Kabupaten Serang,” katanya, Senin 16 September 2025.
Ia mengungkapkan, untuk penanganan TBC, pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap 25.388 orang. Dari jumlah tersebut, 4.014 orang dinyatakan positif TBC.
“Dari jumlah tersebut ada 452 diantaranya merupakan anak-anak. Jadi memang satu permasalahan yang harus segera kita atasi bersama-sama,” terangnya.
Ia mengaku, ada sejumlah faktor yang menyebabkan tuberkolosis menular ke anak-anak.
Salah satunya ialah karena masih banyak orang dewasa yang terjangkit TBC. Sementara, anak-anak merupakan pihak yang sangat rentan untuk terjangkit TBC.
“Jadi memutus mata rantai penularan TBC adalah dengan menemukan penderitanya, semuanya ditemukan, diobatin sampai sembuh sehingga dia tidak menjadi penular bagi yang lainnya,” ujarnya.
Ia mengatakan, untuk pengobatan yang dilakukan terhadap anak-anak dan orang dewasa jenisnya dan dosisnya berbeda.
“Jadi kalau seorang anak didiagnosa tuberkulosis maka dia diberikan pengobatan sampai dia sembuh gitu. Rata-rata butuh 6 bulan pengobatan,” terangnya.
Ia mengaku, telah melakukan upaya-upaya untuk pencegahan TBC yakni dengan melakukan terapi pencegahan bagi mereka yang sekontak erat maupun kontak rumah yang sudah ada paparan kuman namun belum bergejala.
“Ada paparan kuman tapi dia tidak menderita TBC ya namanya infeksi laten tuberkulosis atau kumannya tidur ya. Jadi kita berikan TPT namanya terapi pencegahan TBC supaya dia tidak jatuh menjadi menderita tuberkulosis. Itu kita sudah 1.843 orang yang mendapatkan PPT,” ujarnya.
Ia mengaku, dari 4.014 kasus TBC, 32 kasus dinyatakan sudah resistensi terhadap pengobatan biasa sehingga penanganannya berbeda.
“Permasalahan tuberkulosis yang tidak bisa diselesaikan hanya dari sektor kesehatan saja. Jadi harus semua sektor bergerak karena TBC ini dampaknya banyak ya tidak hanya dampak kesehatan tapi juga dampak ekonomi, dampak sosial, dan sebagainya,” pungkasnya.
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani
Editor: Agung S Pambudi

