PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Gelar kebangsawanan di Nusantara termasuk Kesultanan Banten bukan sekadar simbol status sosial, melainkan juga bagian dari sistem hukum dan budaya yang diwariskan turun-temurun sejak masa kerajaan.
Salah satu gelar bangsawan yang unik dan otentik berasal dari Banten, yakni Tubagus untuk laki-laki dan Ratu untuk perempuan.
Gelar Kesultanan Banten ini hingga hari ini masih melekat erat di benak masyarakat Provinsi Banten, yang mana, jika ada seseorang bernama Tubagus atau Ratu, dipercaya merupakan keturunan bangsawan.
Gelar kebangsawanan di Indonesia sendiri secara umum terbagi menjadi tiga jenis, yakni gelar keturunan (nasab), gelar jabatan, dan gelar kehormatan.
Dari ketiganya, gelar keturunan menjadi dasar mutlak bagi penerus kekuasaan dalam sistem kerajaan karena menandakan garis darah langsung dari raja.
Di Pulau Jawa, gelar kebangsawanan memiliki perbedaan di setiap wilayah. Misalnya, gelar ‘Raden’ digunakan untuk keturunan raja di wilayah Mataram dan Cirebon.
Namun, sistem pewarisannya berbeda: di Mataram dikenal sistem bilateral (melalui garis laki-laki maupun perempuan), sedangkan di Priangan atau Sunda lebih condong pada sistem patrilineal (melalui garis keturunan laki-laki).
Warisan Nilai Kesultanan Banten
Dikutip dari kanal YouTube Bujang Gotri, sejarah panjang ini menjadi pengingat bahwa gelar Tubagus dalam Kesultanan Banten bukan sekadar nama, melainkan warisan nilai dan akhlak yang luhur dari para leluhur Banten.
Kesultanan Banten memiliki sistem yang berbeda dan khas. Sebagai wilayah kekuasaan yang pernah menjadi salah satu kerajaan besar di Nusantara pada abad ke-16, Kesultanan Banten melahirkan gelar bangsawan ‘Tubagus’ dan ‘Ratu’ yang hanya dimiliki oleh keturunan langsung Sultan Banten.
Menurut sejumlah sumber, gelar Tubagus berasal dari kata ‘Ratu Bagus’, yang berarti keturunan mulia. Ada pula versi yang menyebut istilah tersebut berasal dari bahasa Arab ‘Tuba’ dan ‘Gaus’, yang berarti kebahagiaan yang dilindungi melambangkan kehormatan bagi pewaris kemuliaan.
Gelar Tubagus pertama kali digunakan pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf, Sultan Banten kedua yang merupakan putra dari Sultan Maulana Hasanuddin, pendiri Kesultanan Banten sekaligus putra Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) dari Cirebon.
Dari jalur inilah, gelar Tubagus diyakini memiliki keterkaitan dengan keturunan Nabi Muhammad SAW, karena Sunan Gunung Jati disebut memiliki garis keturunan Rasulullah melalui marga Azmatkhan.
Dengan demikian, gelar Tubagus di Banten sejatinya sepadan dengan gelar Sayyid atau Syarif yang digunakan di wilayah Timur Tengah untuk keturunan Nabi. Karena itu, gelar ini memiliki makna spiritual dan kehormatan yang sangat tinggi, bukan hanya status sosial semata.
Menariknya, meski memiliki kehormatan besar, tidak semua keturunan Kesultanan Banten menggunakan gelar Tubagus atau Ratu secara terbuka. Sebagian memilih untuk tidak menampilkan gelar tersebut dalam nama mereka, demi menjaga sikap rendah hati dan menjauhkan diri dari kesombongan.
Kini, seiring waktu, gelar Tubagus tidak hanya dikenal di Banten. Penyebaran para ulama dan keturunan Kesultanan Banten ke berbagai daerah membuat gelar ini juga ditemukan di wilayah lain di Indonesia. Namun, makna dan kehormatan di baliknya tetap sama sebagai simbol garis keturunan mulia dan penjaga warisan spiritual Kesultanan Banten.
Editor Daru Pamungkas











