CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Puluhan warga yang tergabung dalam Masyarakat Kebonsari Menggugat menggelar aksi unjuk rasa di depan area PT Krakatau Tirta Industri (KTI) di Kerenceng, Kelurahan Kebonsari, Kamis, 23 Oktober 2025.
Mereka menuntut kejelasan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) serta memprotes dugaan pelanggaran lingkungan dan ketenagakerjaan di proyek yang tengah dijalankan perusahaan tersebut.
Koordinator Lapangan Aksi, Alex Hadi Susanto, mengatakan aksi itu merupakan bentuk kekecewaan warga terhadap sikap manajemen PT KTI yang dinilai abai terhadap aspirasi masyarakat sekitar.
“Tuntutan kami, salah satunya soal masalah CSR yang katanya sudah disalurkan, tapi masyarakat tidak pernah merasakan manfaatnya. Boleh dicek ke kelurahan atau kecamatan, semuanya tidak tahu menahu,” ujar Alex di sela aksi.
Selain itu, massa juga mempersoalkan persoalan perizinan proyek yang dinilai tidak pernah melibatkan masyarakat sekitar dalam prosesnya. Menurut Alex, seharusnya perusahaan membuka ruang dialog agar tidak menimbulkan gejolak sosial di lingkungan sekitar.
“Proyek ini jalan begitu saja tanpa sosialisasi. Padahal lokasinya bukan di kawasan industri, tapi di tengah permukiman warga,” ujarnya.
Tidak hanya soal CSR dan perizinan, warga juga menyoroti komposisi tenaga kerja di proyek PT KTI yang diduga didominasi pekerja dari luar Kota Cilegon.
“Sekitar 70 persen tenaga kerja yang ada di proyek itu dari luar Cilegon. Ini miris, karena banyak warga sini yang butuh kerja, tapi tidak dilibatkan,” tegas Alex.
Ia menambahkan, selain tidak memperhatikan tenaga kerja lokal, aktivitas proyek PT KTI juga menimbulkan polusi suara dan debu yang mengganggu kenyamanan masyarakat.
“Pekerjaan kadang sampai jam 1 malam, bising, debunya kemana-mana. Kasihan warga yang tinggal di sekitar sini,” ujarnya.
Alex menegaskan, apabila tidak ada tanggapan serius dari pihak manajemen PT KTI, masyarakat akan melanjutkan aksi dengan intensitas lebih besar.
“Kami beri waktu. Kalau tetap diabaikan, aksi ini akan kami gelar selama satu minggu penuh,” tandasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT KTI belum memberikan keterangan resmi terkait aksi dan tuntutan warga tersebut.
Editor: Agus Priwandono











