KABUPATEN TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID — Perencanaan pengembangan jalur MRT Lintas Timur–Barat rute Kembangan–Balaraja tidak hanya diproyeksikan memperkuat konektivitas Jakarta dan Banten, tetapi juga membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi dan sektor properti di kawasan barat.
Hal tersebut ditandai dengan kerja sama antara PT Paramount Enterprise International (Paramount Land) dan PT MRT Jakarta (Perseroda), yang dituangkan melalui penandatanganan nota kesepahaman di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026.
Pengembangan jalur MRT sepanjang sekitar 30 kilometer ini akan dilengkapi 14 stasiun dan satu depo di Balaraja. Proyek tersebut diyakini mampu menciptakan pusat-pusat aktivitas ekonomi baru di sepanjang koridor Kembangan hingga Kabupaten Tangerang.
Akses transportasi massal yang lebih cepat dan terintegrasi dinilai dapat meningkatkan mobilitas tenaga kerja, memperlancar aktivitas bisnis, serta menekan biaya logistik dan transportasi harian masyarakat.
Dari sisi sektor properti, kehadiran MRT Kembangan–Balaraja diperkirakan memberikan nilai tambah signifikan terhadap kawasan hunian dan komersial di sekitar jalur dan stasiun. Kawasan pengembangan seperti Gading Serpong dan Paramount Petals menjadi dua area yang berpotensi merasakan dampak langsung dari peningkatan aksesibilitas tersebut.
Presiden Direktur Paramount Land, M. Nawawi, mengatakan bahwa pengembangan MRT Kembangan–Balaraja merupakan momentum penting dalam mendorong pertumbuhan kawasan secara berkelanjutan.
“Infrastruktur transportasi massal adalah faktor kunci dalam menciptakan kawasan yang kompetitif dan bernilai jangka panjang,” ujarnya.
Selain mendorong kenaikan nilai properti, proyek tersebut juga diproyeksikan menciptakan multiplier effect bagi perekonomian daerah, mulai dari terbukanya lapangan kerja baru hingga meningkatnya aktivitas usaha mikro dan menengah di sekitar stasiun.
“Termasuk tumbuhnya kawasan komersial terpadu berbasis transit oriented development (TOD),” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda), Tuhiyat, menegaskan bahwa kolaborasi dengan pengembang swasta merupakan bagian dari strategi membangun sistem transportasi perkotaan yang berkelanjutan dan terintegrasi dengan pengembangan kawasan.
Menurutnya, melalui pengembangan MRT Lintas Timur–Barat, diharapkan tercipta sinergi yang kuat antara transportasi massal dan perencanaan kota.
Dari sisi pemerintah, proyek MRT Kembangan–Balaraja yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) juga dipandang sebagai instrumen penting untuk memperkuat ekosistem ekonomi regional.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menilai proyek ini dapat memperluas dampak ekonomi Jakarta hingga wilayah penyangga, sementara Gubernur Banten Andra Soni menilai MRT akan meningkatkan daya saing Tangerang Raya sebagai kawasan investasi.
“Dengan pergeseran dari kendaraan pribadi ke transportasi massal, efisiensi waktu tempuh dan kualitas hidup masyarakat diharapkan meningkat,” ujarnya.
Dalam jangka panjang, kehadiran MRT Kembangan–Balaraja diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan baru yang mendorong keseimbangan pembangunan antara Jakarta dan Banten, sekaligus memperkuat sektor properti sebagai penopang ekonomi kawasan.*
Editor : Krisna Widi Aria











