LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Datangnya bulan suci Ramadan membawa berkah tersendiri bagi petani timun suri di Kabupaten Lebak.
Buah yang identik sebagai campuran minuman berbuka itu mulai banyak diburu masyarakat. Permintaan meningkat tajam sejak sepekan menjelang puasa.
Di Kampung Cikabayan, Desa Karyajaya, Kecamatan Cimarga, aktivitas panen terlihat lebih sibuk dari biasanya. Warga setempat menyebut timun suri dengan istilah ‘bonteng puan’. Buah musiman ini menjadi salah satu sumber penghasilan tambahan saat Ramadan.
Sarif, petani setempat, mengaku setiap musim puasa dirinya rutin memanen setiap hari. Dalam sehari, hasil panen bisa mencapai 1,5 hingga 2 kuintal tergantung kondisi tanaman. Permintaan yang stabil membuat hasil panennya cepat terserap pasar.
“Setiap musim puasa sebulan penuh itu minimal ambil bonteng setiap hari. Sehari bisa satu setengah sampai dua kuintal,” ujar Sarif kepada RADARBANTEN.CO.ID, saat ditemui di kebunnya, Senin 23 Februari 2026.
Menurutnya, hampir separuh warga di kampung tersebut ikut menanam timun suri. Penanaman biasanya dilakukan dua hingga tiga bulan sebelum Ramadan agar masa panen tepat waktu. Strategi ini sudah menjadi pola tahunan warga setempat.
“Kalau di kampung ini hampir separuh warga nanam. Biasanya dua atau tiga bulan sebelum puasa sudah siap tanam,” katanya.
Dari sisi pemasaran, para petani tidak mengalami kendala berarti. Pengepul datang langsung ke kebun menggunakan sepeda motor maupun mobil untuk mengambil hasil panen. Harga jual berkisar Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per buah, tergantung ukuran.
“Ada yang pakai motor, ada juga yang pakai mobil. Mereka keliling ke tiap-tiap kampung untuk mengambil hasil panen dari petani seperti saya,” ujarnya.
Sementara itu, Rohman, petani lainnya, menyebut produksi tahun ini sedikit menurun. Curah hujan tinggi saat masa tanam menyebabkan sebagian tanaman membusuk dan gagal tumbuh maksimal.
“Waktu tanam itu hujannya banyak sekali. Pohon masih kecil sudah kena hujan terus, jadi banyak yang busuk. Buah pertama kurang menghasilkan,” ungkapnya.
Ia memperkirakan pendapatannya turun dibanding musim sebelumnya. Jika tahun lalu mampu meraup Rp5 juta hingga Rp8 juta, kini hanya sekitar Rp3 juta. Meski begitu, Ramadan tetap menjadi momen yang paling dinanti para petani timun suri di Lebak.
Editor Daru











