SERANG, RADARBANTEN.CO.ID- Kabupaten Serang memiliki garis pantai yang sangat panjang, membentang 92 kilometer. Panjangnya garis pantai di Kabupaten Serang membuat potensi abrasi air laut semakin besar. Bahkan, abrasi sudah terlihat nyata terjadi di pantai Utara.
Abrasi air laut ialah fenomena pengikisan garis pantai akibat hantaman gelombang, arus, dan pasang surut air laut. Akibatnya, garis pantai semakin menjorok ke daratan akibat tidak adanya benteng yang melindungi daratan.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang pun melakukan pendataan terhadap garis pantai yang rawan mengalami abrasi dan cukup potensial untuk ditanami oleh mangrove, tercatat ada sebanyak 7.319 hektare potensial.
Dari total luasan lahan tersebut ada sekitar 1.005 hektare yang sudah tertanami yang tersebar mulai dari Kecamatan Tanara hingga Anyar. Data tersebut berdasarkan hasil sinkronisasi data dengan Pemerintah Provinsi Banten.
Kepala DLH Kabupaten Serang, Sarudin, mengatakan bahwa garis pantai di Kabupaten Serang sangat panjang, dari Kecamatan Tanara hingga Kecamatan Cinangka.
Untuk mengantisipasi abrasi, pencegahan dilakukan dengan penanaman mangrove di wilayah pesisir.
“Manfaatnya banyak, untuk menjaga alam pesisir baik dari banjir, rob, abrasi. Ini juga penting untuk menjaga pelestarian perikanan di pesisir hingga bisa menyerap karbon. Intinya untuk mempertahankan iklim di Kabupaten Serang,” kata Sarudin, Senin, 8 Juni 2026.
Selain dampak lingkungan yang didapat oleh masyarakat, ada pula dampak ekonomis yang akan didapatkan oleh masyarakat dengan adanya pohon mangrove.
“Ketika ekosistem terjaga, maka tangkapan nelayan Serang Utara bisa banyak,” ujarnya.
Sarudin mengungkapkan, setidaknya ada sebanyak 7.000 hektare yang masuk kategori lahan kritis yang terancam oleh abrasi. Dari luasan tersebut, sekitar 1.000 hektare sudah tertanami oleh mangrove.
“Tentunya ini masih banyak PR, kita berharap adanya kolaborasi dan kerja sama dari perusahaan, masyarakat dan semua insan yang peduli akan itu,” ujarnya.
Penyuluh Lingkungan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang, Deni Hardiana, mengatakan bahwa sejak tahun 2017 lalu, Pemkab Serang telah berupaya untuk melakukan penanaman mangrove sebagai benteng alami untuk mengantisipasi terjadinya abrasi.
“Hingga tahun 2026 ini sudah ada sebanyak 87 ribu pohon mangrove yang sudah ditanam di Kabupaten Serang,” katanya, Senin, 8 Juni 2026.
Ia menuturkan, dalam upaya perbaikan pesisir pantai kritis di Kabupaten Serang pihaknya berupaya untuk menggandeng berbagai pihak. Mulai dari perusahaan hingga kelompok masyarakat. Pasalnya, dengan keterbatasan anggaran Pemkab Serang, pihaknya kesulitan untuk melakukan penanganan lahan-lahan kritis.
Kerja sama yang terjalin misalnya dengan beberapa perusahaan seperti Indonesia Power, Candra Asri, hingga PT Lestari Banten Energi. Perusahaan tersebut menyalurkan anggaran melalui dana CSR untuk melakukan perbaikan lingkungan dengan melakukan penanaman pohon mangrove.
“Selain di Desa Lontar, penanaman mangrove juga saat ini bergeser ke Desa Tengkurak, PT Chandra Asri akan menanami sekitar 134 hektare,” ujarnya.
Ia mengatakan jika saat ini ada wilayah di Serang Utara yang memiliki titik abrasi cukup parah berada di Desa Alang Alang, Kecamatan Tirtayasa.
“Yang terparah ada di Desa Alang Alang, kita bagi zona untuk penanaman, di Desa Lontar ini plotnya untuk Indonesia Power dan PT LBE,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, saat ini semakin banyak masyarakat yang terlibat aktif dalam pelestarian alam di Tirtayasa. Selain Kelompok Tani Hutan (KTH) Segara Biru yang ada di Desa Lontar, kini mulai muncul kelompok-kelompok yang ada di desa lain.
“Jadi muncul juga di Desa Tengkurak, kita sudah sisir KTH yang ada di Serang Utara, ternyata sudah banyak KTH,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan KTH Segara Biru, Hujaemi, mengungkapkan setelah dilakukan upaya penanaman pohon mangrove sejak tahun 2019 lalu, jumlah lahan kritis akibat abrasi di Desa Lontar semakin berkurang.
“Kalau di Desa Lontar jumlahnya tinggal sedikit lagi, namun memang untuk desa-desa lainnya di Tirtayasa seperti Susukan, Tengkurak, dan Alang Alang masih banyak,” katanya.
Ia mengatakan, aktivitas penanaman mangrove yang dilakukan oleh perusahaan di wilayah Serang Utara tak hanya berdampak baik secara lingkungan bagi warga, melainkan juga secara ekonomi.
Dengan adanya penanaman mangrove, masyarakat memiliki penghasilan tambahan dari penanaman mangrove hingga adanya produk olahan dari mangrove.
“Saat ini ada sekitar 20 orang yang aktif menjadi anggota segara biru,” ujarnya.
Editor: Agus Priwandono











