SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto mengajak para wisudawan UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten untuk tidak hanya berpikir mencari pekerjaan setelah lulus. Ia mendorong para lulusan ikut membangun desa sekaligus menciptakan lapangan kerja.
Pesan tersebut disampaikan Yandri Susanto saat menghadiri Wisuda Sarjana ke-43 dan Pascasarjana ke-29 UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten di Serang, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Dalam sambutannya, Yandri mengajak para wisudawan melihat desa sebagai wilayah yang memiliki potensi ekonomi dan peluang besar untuk dikembangkan.
“Saya ingin mengajak para wisudawan melihat bahwa desa itu adalah sesuatu yang sangat luar biasa,” kata Yandri.
Yandri kemudian menceritakan pengalaman hidupnya yang lahir dan besar di daerah tertinggal. Ia lahir di Desa Palak Siring, Bengkulu. Menurutnya, listrik baru masuk ke desanya pada 2000, sementara jaringan sinyal baru tersedia pada 2015.
“Saya SD jarang pakai sepatu. Sekolah SMP menyeberang sungai. Saya pernah menjadi marbot masjid dan sekolah di jurusan peternakan,” ujarnya.
Pengalaman tersebut, kata Yandri, menjadi bukti bahwa latar belakang seseorang bukan menjadi penghalang untuk meraih kesuksesan.
“Apapun asal kita, dari manapun asal kita, asal kita sungguh-sungguh, kita bisa menjadi apapun di negeri yang sangat kita cintai ini,” tegasnya.
Yandri bahkan memberikan contoh dirinya yang pernah menjadi marbot masjid hingga akhirnya dipercaya menjadi menteri.
“Apakah mungkin marbot masjid menjadi menteri? Bisa. Ini contohnya. Apakah mungkin orang desa tertinggal menjadi menteri atau menjadi anggota DPR? Bisa. Bisa. Ini contohnya,” katanya.
Dorong Wisudawan Bangun Lapangan Kerja
Yandri juga mengingatkan para wisudawan agar tidak menjadikan pekerjaan sebagai tujuan satu-satunya setelah menyelesaikan pendidikan.
Ia menilai lulusan perguruan tinggi memiliki peluang untuk menjadi penggerak ekonomi masyarakat, termasuk dengan mengembangkan potensi yang ada di desa.
“Tadi kata Pak Rektor, Prof. Isom, sejatinya kita tidak mesti melulu mencari pekerjaan. Kita bisa menciptakan lapangan kerja dan bisa mengajak orang lain untuk bekerja dengan kita,” ujarnya.
Menurut Yandri, peluang tersebut sangat terbuka di Banten. Sebab, Banten memiliki hampir 1.200 desa yang dapat dikembangkan sesuai potensi masing-masing.
Secara nasional, Indonesia memiliki sekitar 75.000 desa. Jumlah tersebut membuat pemerintah membutuhkan kolaborasi berbagai pihak untuk mempercepat pembangunan desa.
“Kalau Menteri Desa tiap hari keliling desa, perlu waktu 206 tahun. Enggak cukup. Maka perlu kolaborasi,” katanya.
Yandri menyebut masih terdapat ribuan desa yang masuk kategori tertinggal dan sangat tertinggal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan desa masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Editor : Aas Arbi












