SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Peluang kerja bagi masyarakat Indonesia di luar negeri terus terbuka seiring meningkatnya kebutuhan tenaga kerja terampil di pasar global. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) bersama Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Banten menyosialisasikan program SMK Go Global di Aula Disnakertrans Banten, Jumat, 21 Agustus 2026.
Program tersebut diperkenalkan sebagai salah satu upaya membuka akses bagi masyarakat, termasuk warga Banten, untuk bekerja di luar negeri melalui jalur resmi.
Kepala BP3MI Banten, Ponco Indriyo, mengatakan peluang kerja luar negeri harus diimbangi dengan peningkatan kompetensi calon pekerja migran Indonesia (PMI).
“Bekerja ke luar negeri terus berkembang, membuka peluang yang luas bagi pekerja migran Indonesia. Namun, juga menuntut kompetensi, keterampilan bahasa, sertifikasi, serta pemahaman budaya dan ketentuan ketenagakerjaan di negara tujuan,” kata Ponco Indriyo.
Menurutnya, peningkatan kapasitas calon PMI perlu disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja di negara tujuan. Dengan begitu, peserta pelatihan memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan penempatan kerja.
“Oleh karenanya, peningkatan kapasitas itu perlu disusun berbasis kebutuhan riil pasar kerja luar negeri agar peserta pelatihan memiliki peluang lebih besar untuk ditempatkan,” ujarnya.
Ponco menambahkan, pemerintah menghadirkan program SMK Go Global untuk menjawab kebutuhan tersebut. Program ini menargetkan peningkatan kapasitas sebanyak 500.000 calon PMI dalam periode 2026–2029.
Sementara itu, Kepala Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Indra Hardiansyah, mengatakan program SMK Go Global juga berkaitan dengan tantangan bonus demografi yang akan dihadapi Indonesia.
“SMK Go Global juga didasari oleh adanya tantangan bahwa Indonesia akan menghadapi bonus demografi yang cukup luar biasa. Posisi tahun ini, 2026, jumlah penduduk Indonesia sebesar 183 juta jiwa kurang lebih,” katanya.
Indra menjelaskan jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan terus meningkat hingga mencapai sekitar 200 juta jiwa pada 2045.
“Diperkirakan dan kami proyeksikan berdasarkan data BPS, pada 2045 jumlah penduduk Indonesia mencapai 200 juta jiwa,” jelasnya.
Menurutnya, pertumbuhan jumlah penduduk tersebut akan diikuti dengan meningkatnya jumlah tenaga kerja produktif yang membutuhkan lapangan pekerjaan.
“Itu bisa terbayangkan ya, angka penduduknya 200 juta jiwa. Berapa jumlah potensi tenaga kerja produktif yang harus tersalurkan di lapangan kerja yang ada? Nah, di sisi lain, ada juga peluang tingginya kebutuhan tenaga terampil di pasar kerja global,” tambahnya.
Kepala Disnakertrans Banten, Septo Kalnadi, menilai program SMK Go Global dapat menjadi salah satu upaya untuk menekan angka pengangguran di Banten.
“Biar beban ini agak terasa ringan bagi saya. Karena terus terang saja, Banten itu nomor tiga terbesar investasi di Indonesia. Tapi nomor empat pengangguran terbuka se-Indonesia. Tingkat pengangguran nomor empat se-Indonesia,” terangnya.
Menurut Septo, keterlibatan sekolah dan perguruan tinggi dalam sosialisasi program tersebut penting agar informasi mengenai peluang kerja luar negeri dapat menjangkau calon tenaga kerja sejak dini.
Ia berharap program SMK Go Global dapat membuka lebih banyak kesempatan kerja sekaligus membantu mengurangi angka pengangguran di Banten.
Reporter: Nurandi – Editor: Aas Arbi












