Mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Esa Unggul Powered by Arizona State University terus memperkuat peran perguruan tinggi dalam meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat melalui kegiatan Praktik Farmasi Sosial (PFS). Melalui edukasi, skrining kesehatan, dan penanaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA), mahasiswa PFS Kelompok 17 hadir di tengah masyarakat RW 012 Rawa Buaya, Jakarta Barat, untuk mendorong pencegahan penyakit degeneratif sejak dini.
Mengusung tema “Mewujudkan Masyarakat Sehat melalui Pencegahan Penyakit Degeneratif”, kegiatan ini menjadi bentuk penerapan ilmu kefarmasian secara langsung di masyarakat. Program tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi kesehatan, tetapi juga menghadirkan skrining untuk membantu warga mengenali kondisi kesehatannya serta pemberdayaan lingkungan melalui pengembangan tanaman herbal.
Penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes melitus, kolesterol tinggi, dan asam urat menjadi persoalan kesehatan yang memerlukan perhatian sejak dini. Kondisi tersebut tidak hanya dapat dialami oleh kelompok lanjut usia, tetapi juga berpotensi terjadi pada usia produktif akibat berbagai faktor, termasuk pola makan, kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, stres, usia, dan faktor genetik.
Edukasi Penyakit Degeneratif untuk Warga RW 012
RW 012 Rawa Buaya memiliki jumlah penduduk sebanyak 5.703 jiwa, dengan 501 jiwa di antaranya merupakan kelompok lanjut usia. Berdasarkan survei awal yang dilakukan oleh Kelompok 17 Praktik Farmasi Sosial, penyakit degeneratif menjadi salah satu isu kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian di lingkungan masyarakat.
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Esa Unggul menyelenggarakan penyuluhan kesehatan pada 4 Agustus 2026 di RPTRA Cempaka, Rawa Buaya. Sebanyak 37 warga mengikuti kegiatan edukasi yang membahas berbagai penyakit degeneratif, termasuk hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, dan osteoartritis. Materi edukasi disampaikan oleh Prof. Dr. Apt. Aprilita Rina Yanti Eff, M.Biomed. Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diajak untuk mengenali faktor risiko, gejala, dan potensi komplikasi penyakit degeneratif, sekaligus memahami pentingnya perubahan gaya hidup dan deteksi dini.
Prof. Dr. Apt. Aprilita Rina Yanti Eff, M.Biomed. menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap faktor risiko penyakit degeneratif yang dapat dikendalikan.
“Penyakit degeneratif perlu dikenali sejak dini karena banyak faktor risikonya yang sebenarnya dapat dikendalikan melalui perubahan gaya hidup,” jelasnya.
Edukasi kesehatan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memahami bahwa pencegahan merupakan bagian penting dalam menjaga kualitas hidup. Pengetahuan mengenai faktor risiko dan kebiasaan hidup sehat menjadi langkah awal bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi kesehatannya.
Skrining Kesehatan Temukan Faktor Risiko pada Warga
Selain edukasi, mahasiswa juga melaksanakan skrining kesehatan terhadap peserta kegiatan. Pemeriksaan dilakukan sebagai bagian dari upaya membantu warga mengenali kondisi kesehatan dan faktor risiko yang perlu mendapatkan perhatian.
Dari hasil skrining terhadap 37 warga, ditemukan bahwa kondisi tekanan darah masyarakat masih memerlukan perhatian. Sebanyak 13,5 persen atau lima peserta memiliki tekanan darah dalam kategori normal. Sementara itu, 43,2 persen peserta berada pada kategori prehipertensi, 32,4 persen berada pada kategori hipertensi derajat 1, dan 10,8 persen termasuk dalam kategori hipertensi derajat 2. Rata-rata tekanan darah peserta tercatat mencapai 140,9/86,6 mmHg.
Hasil pemeriksaan juga menunjukkan kondisi berat badan yang perlu menjadi perhatian. Sebanyak 56,8 persen peserta berada dalam kategori obesitas dan 10,8 persen mengalami kelebihan berat badan. Sementara 29,7 persen peserta memiliki berat badan dalam kategori ideal.
Temuan tersebut menjadi gambaran penting mengenai perlunya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pemeriksaan kesehatan secara berkala. Melalui skrining, warga dapat memperoleh informasi awal mengenai kondisi kesehatannya dan mempertimbangkan pemeriksaan atau konsultasi lanjutan di fasilitas pelayanan kesehatan apabila diperlukan.
Kegiatan ini juga mengingatkan masyarakat bahwa hipertensi dapat terjadi tanpa gejala yang jelas. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan secara rutin menjadi salah satu langkah penting dalam upaya deteksi dini dan pencegahan risiko kesehatan yang lebih serius.
Dari Edukasi Kesehatan hingga Penanaman TOGA
Upaya pemberdayaan masyarakat tidak berhenti pada edukasi dan pemeriksaan kesehatan. Mahasiswa PFS Kelompok 17 juga mengembangkan program penanaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di lingkungan RPTRA Cempaka.
Kegiatan penanaman dilaksanakan pada 13–14 Agustus 2026 di RPTRA Cempaka, RT 03/RW 012, Rawa Buaya. Program tersebut melibatkan mahasiswa Praktik Farmasi Sosial bersama pengelola RPTRA Cempaka, ibu-ibu PKK, serta masyarakat setempat.
Lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal mulai dikembangkan menjadi area hijau yang ditanami berbagai jenis tanaman herbal. Mahasiswa menanam tanaman seperti sereh dan kumis kucing, sementara pihak RW turut menambahkan berbagai tanaman lainnya, antara lain sereh merah, lidah buaya, kunyit, tapak dara, sambung nyawa, dan kitolod.
Program TOGA menjadi bagian dari edukasi kepada masyarakat mengenai pemanfaatan lingkungan sekitar untuk membudidayakan tanaman herbal. Selain memperindah lingkungan, keberadaan tanaman tersebut juga dapat menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat dan keluarga untuk mengenal berbagai jenis tanaman yang dapat dibudidayakan di lingkungan sekitar.
Kolaborasi Warga untuk Menjaga Keberlanjutan Program
Antusiasme masyarakat terlihat dalam proses penanaman dan pengembangan area TOGA. Pengelola RPTRA bersama warga berkomitmen untuk melakukan perawatan terhadap tanaman yang telah ditanam agar keberadaannya dapat terus memberikan manfaat sebagai bagian dari lingkungan hijau dan ruang edukasi masyarakat.
Ketua RW 012, Tulus, turut menyambut positif pelaksanaan kegiatan tersebut. Pemanfaatan lahan yang sebelumnya belum digunakan secara optimal menjadi area tanaman herbal dinilai dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal berbagai tanaman yang dapat dibudidayakan di sekitar tempat tinggal.
Program ini menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari langkah sederhana. Melalui kolaborasi antara mahasiswa dan warga, kegiatan kesehatan dapat dikembangkan tidak hanya melalui penyampaian informasi, tetapi juga melalui aksi nyata yang melibatkan partisipasi masyarakat.
Mahasiswa Farmasi Hadirkan Edukasi hingga Aksi Nyata
Praktik Farmasi Sosial menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran mahasiswa Program Studi Farmasi. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menerapkan pengetahuan akademik secara langsung sekaligus memahami kondisi dan kebutuhan kesehatan masyarakat.
Mahasiswa tidak hanya berperan dalam menyampaikan informasi, tetapi juga belajar membangun komunikasi, melakukan edukasi kesehatan, bekerja sama dengan masyarakat, serta mengembangkan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan lingkungan.
Rektor Universitas Esa Unggul, Dr. Ir. Arief Kusuma Among Praja, S.T., M.B.A., IPU, ASEAN Eng., menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghadirkan ilmu pengetahuan dan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat mahasiswa memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga ruang untuk membangun kepedulian dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan di masyarakat. Melalui kegiatan seperti Praktik Farmasi Sosial, mahasiswa belajar menerapkan ilmunya secara langsung sekaligus membangun kemampuan untuk berkontribusi dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat,” ujar Rektor.
Melalui rangkaian edukasi, skrining kesehatan, dan penanaman TOGA, mahasiswa PFS Kelompok 17 berharap program yang telah dilaksanakan dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat RW 012 Rawa Buaya.
Edukasi membantu warga memahami faktor risiko penyakit degeneratif dan pentingnya menerapkan pola hidup sehat. Skrining kesehatan memberikan gambaran awal mengenai kondisi kesehatan masyarakat, sementara program TOGA mendorong pemanfaatan lingkungan sebagai ruang hijau dan sarana edukasi.
Kegiatan ini menjadi contoh bagaimana pembelajaran di perguruan tinggi dapat melampaui ruang kelas. Pengetahuan akademik yang dimiliki mahasiswa dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata melalui kolaborasi bersama masyarakat.
Universitas Esa Unggul Powered by Arizona State University terus mendorong pengembangan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada kemampuan sivitas akademika untuk menghadirkan inovasi dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Melalui kegiatan pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, Universitas Esa Unggul memperkuat perannya dalam membangun generasi profesional yang unggul, adaptif, dan siap memberikan dampak bagi masa depan.












