Mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Esa Unggul Powered by Arizona State University menggelar rangkaian edukasi dan pemberdayaan kesehatan bagi warga RW 09 Perumahan Griya Lestari Permai, Desa Sindang Panon, Kecamatan Sindang Jaya, Kabupaten Tangerang. Melalui kegiatan Praktik Farmasi Sosial (PFS), mahasiswa mengajak masyarakat meningkatkan kesadaran terhadap pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD), stunting, serta penyakit degeneratif.
Kegiatan yang berlangsung pada 3–18 Agustus 2026 ini menjadi bagian dari penerapan pembelajaran mahasiswa di tengah masyarakat. Berangkat dari hasil survei awal, mahasiswa menemukan sejumlah persoalan kesehatan yang memerlukan perhatian, mulai dari risiko DBD, pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang belum optimal, literasi penggunaan obat, hingga kekhawatiran terhadap stunting dan penyakit degeneratif.
Sebanyak 10 mahasiswa Farmasi yang tergabung dalam Kelompok 11, yakni Clea Zahra Kirani, Ariza Rihaadatul Aisy, Seiptiana, Nazwa Adinda Neja Mester, Rizky Maulana Putra, Fahra Ferizky Supriyadi, Marscha Dwi Indriyani, Tiara Amelia, Nabilla Putri Fandini, dan Nadhila Fitri Lensy, melaksanakan kegiatan di bawah bimbingan Dr. apt. Syuhada, M.Farm. selaku Dosen Pembimbing Lapangan.
Mengusung tema “Gerakan Edukasi Kesehatan sebagai Upaya Peningkatan Literasi dan Perilaku Hidup Sehat Masyarakat”, mahasiswa merancang sembilan program kerja yang menyasar berbagai kelompok masyarakat, mulai dari anak-anak hingga warga dewasa.
Edukasi DBD dan Demonstrasi Spray Serai Wangi
Salah satu kegiatan yang mendapat perhatian warga adalah program Lindungi Diriku, yang menggabungkan edukasi pencegahan DBD dengan demonstrasi pembuatan spray berbahan serai wangi atau citronella. Kegiatan dilaksanakan di Balai Warga RW 09. Mahasiswa mengajak warga memahami karakteristik nyamuk Aedes aegypti, cara penularan DBD, serta langkah pencegahan melalui gerakan 3M Plus.
Selain edukasi, warga juga mengikuti demonstrasi pembuatan spray berbahan serai wangi. Dua perwakilan ibu-ibu dilibatkan secara langsung dalam proses pembuatan, mulai dari menyiapkan bahan, mencuci dan memotong serai, melakukan perebusan, menyaring hasil rebusan, hingga proses pengemasan.
Kegiatan tersebut dikemas secara interaktif melalui demonstrasi dan diskusi bersama warga. Sebanyak 20 botol spray anti-nyamuk yang telah disiapkan kemudian dibagikan kepada peserta. Antusiasme masyarakat terlihat selama pelaksanaan kegiatan. Pemanfaatan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar menjadi salah satu hal yang menarik perhatian warga.
Cegah Stunting dan Penyakit Degeneratif Sejak Dini
Perhatian terhadap kesehatan masyarakat juga diwujudkan melalui program Generasi Bebas Stunting dan Pembuatan NutriGrow. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menggelar sosialisasi bertajuk “Upaya Pencegahan Stunting dan Penyakit Degeneratif di Masyarakat” yang disampaikan oleh Dr. apt. Syuhada, M.Farm.
Sebanyak 52 warga mengikuti kegiatan yang membahas pentingnya mengenali risiko stunting pada anak serta meningkatkan kesadaran terhadap penyakit degeneratif, termasuk hipertensi, diabetes, dan asam urat. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi yang memberikan kesempatan kepada warga untuk menyampaikan pertanyaan dan berdiskusi mengenai persoalan kesehatan yang mereka hadapi.
Mahasiswa juga membuka layanan pemeriksaan kesehatan dasar berupa pengukuran tekanan darah, gula darah, dan asam urat. Sebanyak 51 dari 52 peserta mengikuti pemeriksaan tersebut. Sebagai bagian dari kegiatan, peserta juga memperoleh puding berbahan serbuk daun kelor sebagai contoh pemanfaatan bahan pangan lokal dalam kehidupan sehari-hari.
Sembilan Program untuk Masyarakat Sindang Panon
Selain edukasi mengenai DBD, stunting, dan penyakit degeneratif, Kelompok 11 juga menjalankan berbagai kegiatan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. Program tersebut meliputi TOGA Berdaya melalui penataan taman Tanaman Obat Keluarga, Cilik Berkarya melalui kegiatan ecoprint bersama anak-anak RA dan KB Bina Ilmu, serta Gerak Sehat Bersama yang mengajak warga melakukan aktivitas fisik. Mahasiswa juga melaksanakan program Little Pharmacist bagi siswa SDN Sukaharja 1 untuk memperkenalkan pengetahuan dasar kefarmasian sejak dini.
Upaya membangun lingkungan yang lebih sehat dilakukan melalui Gerakan Bersih Kampung, sementara edukasi mengenai penggunaan obat diperkuat melalui Pojok Cerdas Obat dalam bentuk penyediaan media informasi bagi masyarakat. Program Pilah Pintar turut mengajak masyarakat memanfaatkan galon bekas menjadi tempat sampah terpilah sebagai bagian dari upaya meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
Di luar sembilan program utama, mahasiswa juga berpartisipasi dalam kegiatan Posyandu, Lomba Memasak Gizi Seimbang bersama Karang Taruna, serta kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia di tingkat Kecamatan Sindang Jaya. Seluruh rangkaian kegiatan terlaksana dengan dukungan pengurus RW dan RT, kader Posyandu, Karang Taruna, serta pihak sekolah di wilayah Desa Sindang Panon.
Pembelajaran Farmasi Hadir di Tengah Masyarakat
Praktik Farmasi Sosial menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan akademik secara langsung di tengah masyarakat. Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai aspek keilmuan kefarmasian, tetapi juga mengembangkan kemampuan komunikasi, bekerja sama dengan berbagai pihak, serta memahami persoalan kesehatan berdasarkan kondisi masyarakat.
Rektor Universitas Esa Unggul, Dr. Ir. Arief Kusuma Among Praja, S.T., M.B.A., IPU, ASEAN Eng., mengatakan pengalaman belajar langsung di tengah masyarakat merupakan bagian penting dalam membentuk lulusan yang memiliki kompetensi akademik sekaligus kepedulian sosial.
“Perguruan tinggi tidak hanya bertugas memberikan pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga mempersiapkan mahasiswa agar mampu menerapkan keilmuannya untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Kegiatan seperti Praktik Farmasi Sosial menjadi ruang pembelajaran yang penting karena mahasiswa berhadapan langsung dengan persoalan nyata dan belajar menghadirkan solusi sesuai dengan kompetensinya,” ujarnya.
Menurut Rektor, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan berbasis masyarakat juga memperkuat kemampuan mereka dalam beradaptasi dan berkolaborasi.
“Pengalaman berinteraksi dengan masyarakat akan membentuk mahasiswa menjadi lulusan yang tidak hanya memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga kemampuan komunikasi, empati, dan kolaborasi. Kompetensi tersebut sangat penting dalam menghadapi tantangan dunia profesional yang terus berkembang,” tambahnya.
Dari Edukasi Menuju Perubahan Perilaku
Melalui program Lindungi Diriku dan Generasi Bebas Stunting, mahasiswa berharap warga RW 09 dapat semakin memahami pentingnya pencegahan penyakit sejak dini. Edukasi mengenai DBD diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah perkembangbiakan nyamuk. Sementara itu, kegiatan mengenai stunting dan penyakit degeneratif diharapkan mendorong masyarakat untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatan keluarga serta pentingnya pemeriksaan secara berkala.
Rangkaian Praktik Farmasi Sosial ini menunjukkan bahwa upaya meningkatkan kesehatan masyarakat dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari edukasi, deteksi dini, pemberdayaan lingkungan, hingga keterlibatan aktif masyarakat.
Universitas Esa Unggul terus mendorong proses pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan akademik dengan pengalaman nyata. Melalui pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat, Universitas Esa Unggul berkomitmen membentuk lulusan yang unggul, adaptif, memiliki kepedulian sosial, dan mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat di tingkat nasional maupun global.












