SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya menjadi ancaman bagi sektor pariwisata Banten. Fenomena vulkanik tersebut juga dinilai dapat menjadi momentum untuk mengembangkan konsep wisata edukasi berbasis kebencanaan.
Anggota DPRD Banten Fraksi Golkar TB Roy Fachroji Basuni mengatakan, aktivitas Gunung Anak Krakatau memang berpotensi menimbulkan dampak ekonomi bagi pelaku usaha wisata. Kekhawatiran wisatawan dapat memicu pembatalan perjalanan, pembatasan aktivitas hingga penurunan kunjungan ke destinasi wisata pesisir.
“Erupsi Anak Krakatau dapat memberikan dampak negatif terhadap pariwisata Banten melalui kekhawatiran wisatawan, pembatasan aktivitas, abu vulkanik, dan potensi penurunan pendapatan pelaku usaha,” kata Tb Roy, Selasa 16 September 2026.
Namun, menurut dia, pemerintah tidak seharusnya hanya melihat erupsi sebagai persoalan yang menghambat sektor pariwisata.
Aktivitas Anak Krakatau justru dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan wisata yang tidak sekadar menawarkan keindahan alam, tetapi juga memberikan pengetahuan kepada wisatawan mengenai gunung api dan mitigasi bencana.
“Di sisi lain, kondisi tersebut juga mendorong peningkatan mitigasi bencana, keselamatan wisatawan, dan peluang pengembangan wisata edukasi,” ujarnya.
Tb Roy menilai konsep tersebut dapat menjadi pembeda bagi pariwisata Banten. Gunung Anak Krakatau yang memiliki sejarah dan karakteristik vulkanik dapat menjadi bagian dari edukasi mengenai proses terbentuknya gunung api, aktivitas vulkanik, ekosistem Selat Sunda hingga kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Meski demikian, pengembangan wisata edukasi tidak berarti membuka akses wisatawan ke kawasan yang berbahaya.
Menurutnya, aspek keselamatan harus menjadi prioritas. Pemerintah perlu memastikan seluruh aktivitas wisata berada di luar kawasan yang dilarang berdasarkan rekomendasi lembaga berwenang.
Di sisi lain, sistem mitigasi di destinasi wisata pesisir juga perlu diperkuat. Informasi mengenai kondisi gunung api, potensi bahaya, jalur evakuasi dan prosedur keselamatan harus mudah diakses wisatawan maupun pelaku usaha.
Tb Roy menilai langkah tersebut penting agar informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak menimbulkan kepanikan yang justru berdampak lebih besar terhadap industri pariwisata.
“Keselamatan wisatawan harus menjadi yang utama. Tetapi informasi kepada masyarakat juga harus jelas agar tidak semua kawasan wisata dianggap berbahaya,” katanya.
Ia berharap pemerintah dan pelaku usaha pariwisata dapat melihat kondisi tersebut secara lebih proporsional. Destinasi wisata tetap dapat dikembangkan selama aktivitasnya sesuai dengan kondisi dan rekomendasi keselamatan.
Dengan demikian, erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya dipandang sebagai ancaman bagi pariwisata, tetapi juga menjadi momentum membangun destinasi yang lebih tangguh terhadap bencana sekaligus memberikan pengalaman edukatif bagi wisatawan.
Editor: Abdul Rozak












