PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten turun langsung ke lingkungan petani di Kabupaten Pandeglang untuk menyerap aspirasi sekaligus mengidentifikasi kendala penyaluran pupuk bersubsidi.
Langkah tersebut dilakukan menyusul masih rendahnya serapan pupuk subsidi di Banten. Salah satu persoalan yang ditemukan di lapangan yakni masih banyak petani yang belum tergabung dalam kelompok tani (poktan), sehingga mengalami kendala saat melakukan penebusan pupuk bersubsidi di kios.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Distan Banten Saiful Bahri mengatakan, pihaknya tengah membantu petani agar dapat membentuk kelompok tani sebagai salah satu upaya mempermudah akses terhadap pupuk bersubsidi.
“Kita bantu untuk buat poktan agar bisa nebus pupuk di kios,” kata Saiful, Kamis 1 Oktober 2026.
Menurut Saiful, dari hasil penelusuran di lapangan, masih ditemukan cukup banyak petani yang belum bergabung dengan kelompok tani atau belum membentuk kelompok.
“Ternyata kondisi di sini banyak petani yang tidak bergabung dengan kelompok tani atau dengan kata lain mereka belum membentuk kelompok,” ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian Distan Banten karena kelembagaan petani memiliki peran penting dalam proses akses dan penebusan pupuk bersubsidi.
Saiful mengatakan, pihaknya mendorong petani untuk membentuk poktan hingga kelompok gabungan kelompok tani (gapoktan). Langkah itu diharapkan dapat memperkuat kelembagaan sekaligus memudahkan petani mendapatkan pupuk sesuai kebutuhan.
“Harus poktan, gapoktan,” tegasnya.
Serapan Baru 43 Persen
Rendahnya serapan pupuk subsidi juga terlihat dari data realisasi penyaluran di Provinsi Banten. Berdasarkan data per 23 September 2026, total alokasi pupuk bersubsidi Banten mencapai 150.974 ton.
Namun, realisasinya baru mencapai 64.410 ton atau sekitar 43 persen. Dengan demikian, masih terdapat sisa alokasi sebanyak 86.564 ton.
Serapan tertinggi berasal dari pupuk NPK dengan realisasi 32.184 ton dari alokasi 65.000 ton atau sekitar 50 persen. Sementara pupuk urea terealisasi 31.789 ton dari alokasi 83.366 ton atau sekitar 38 persen.
Untuk pupuk organik granul, realisasinya baru mencapai 419 ton dari alokasi 2.320 ton atau sekitar 18 persen. Sedangkan SP-36 baru terserap 19 ton dari alokasi 288 ton atau sekitar 7 persen.
Saiful mengakui kondisi penyerapan pupuk bersubsidi tahun ini masih rendah.
“Kita tahun ini malah penyerapannya rendah,” ujarnya.
Karena itu, Distan Banten tidak hanya mengandalkan evaluasi administratif, tetapi juga turun langsung ke lapangan untuk mengetahui persoalan yang dihadapi petani.
Penyerapan aspirasi tersebut diharapkan dapat menghasilkan solusi yang lebih tepat, terutama bagi petani yang selama ini belum memiliki kelembagaan kelompok tani.
Selain persoalan kelembagaan, Distan Banten juga perlu memastikan petani memahami mekanisme penebusan pupuk bersubsidi agar alokasi yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.
Upaya tersebut menjadi penting mengingat pupuk bersubsidi merupakan salah satu kebutuhan utama petani dalam menjaga produktivitas pertanian sekaligus mendukung ketahanan pangan di Banten.
Editor: Abdul Rozak












