Penulis : Pormadi Simbolon
PROVINSI Banten genap berusia 26 tahun pada 4 Oktober 2026. Namun, usia administratif itu hanyalah satu fragmen kecil dari sejarah Banten yang jauh lebih panjang. Jauh sebelum menjadi provinsi, Banten telah menjadi ruang perjumpaan manusia, kebudayaan, agama, teknologi, dan perdagangan dari berbagai penjuru dunia.
Karena itu, memperingati HUT ke-26 Provinsi Banten bukan hanya soal mengenang perjalanan pembangunan selama seperempat abad. Lebih dari itu, kita perlu bertanya: siapakah Banten dalam bentangan sejarah yang panjang itu, dan ke mana Banten hendak bergerak?
Pertanyaan tersebut menarik jika dibaca melalui perspektif sejarawan Prancis, Denys Lombard, dalam Nusa Jawa: Silang Budaya (Jilid I, II, III).
Persilangan Budaya
Lombard melihat Nusantara bukan sebagai ruang yang terisolasi. Laut tidak semata-mata menjadi pemisah, tetapi justru menjadi penghubung. Nusantara berada di persimpangan Samudra Hindia dan kawasan Pasifik. Dalam perspektif geografis-historis ini, Banten bukan wilayah pinggiran, melainkan salah satu simpul penting pergerakan manusia dan barang.
Lombard bahkan menyebut kedua sisi Selat Sunda sebagai sebuah “daerah historis”. Perkembangan Kesultanan Banten pada abad ke-16 dan ke-17 kemudian melahirkan penyatuan politik penting atas kawasan tersebut. Banten juga memiliki hubungan erat dengan Lampung, terutama melalui penguasaan atas perkebunan lada di wilayah selatan Sumatra. (Lombard, Nusa Jawa, Jilid I, hlm. 44–45).
Dapat kita simpulkan satu pelajaran penting: kekuatan Banten pada masa lalu lahir dari keterhubungannya dengan dunia luar.
Banten berkembang sebagai bandar yang terbuka terhadap jaringan perdagangan luas. Dalam pembacaan Lombard, kesultanan-kesultanan di Nusantara merupakan bagian dari jaringan perdagangan Asia yang telah hidup sebelum kedatangan bangsa Eropa. Banten terhubung dengan berbagai pusat perdagangan, termasuk kawasan India, Cina, dunia Islam, dan pusat-pusat perdagangan Nusantara. (Lombard, Jilid II).
Dengan demikian, sejarah Banten tidak tepat jika hanya dimulai dari kedatangan Portugis atau Belanda. Orang-orang Eropa datang ke ruang yang sesungguhnya telah memiliki jaringan ekonomi dan kebudayaan sendiri.
Banten adalah masyarakat bandar. Banten adalah ruang perjumpaan. Banten adalah ruang silang budaya.
Istilah “silang budaya” penting karena perjumpaan berbagai kebudayaan tidak selalu berlangsung secara satu arah. Unsur dari luar berinteraksi dengan tradisi lokal, diterima, disesuaikan, dinegosiasikan, bahkan dipertentangkan. Salah satu contoh menarik adalah kisah Cardeel, seorang Belanda yang berada di lingkungan Kesultanan Banten, memeluk Islam, dan kemudian membangun bangunan bergaya Belanda untuk Sultan Ageng sekitar 1675. (Lombard, Jilid I, hlm. 210–211; 251–252).
Sejarah Banten memperlihatkan bahwa identitas tidak selalu lahir dari kemurnian atau keterisolasian. Identitas juga dapat tumbuh dari perjumpaan.
Namun, jaringan yang membuat Banten kuat sekaligus menjadi arena perebutan kekuasaan. Ketika VOC membangun Batavia pada 1619, keseimbangan jaringan perdagangan di kawasan Selat Sunda berubah. Batavia secara bertahap mengambil posisi strategis yang sebelumnya dimiliki Banten. Konflik internal Kesultanan Banten semakin memperumit keadaan, hingga VOC memperoleh kendali yang lebih kuat atas Banten pada 1682.
Pelajaran sejarahnya relevan bagi Banten hari ini. Sebuah daerah tidak menjadi kuat karena berdiri sendiri. Ia menjadi kuat karena mampu membangun jaringan.
Pada usia ke-26, Banten memiliki modal sejarah dan geografis yang besar. Selat Sunda tetap menjadi ruang penghubung Jawa dan Sumatra. Banten juga berkembang sebagai kawasan industri, perdagangan, jasa, pendidikan, dan pariwisata. Tetapi posisi strategis saja tidak cukup. Konektivitas harus diterjemahkan menjadi kesejahteraan masyarakat.
Banten Bergerak, Maju Berdampak
Tema HUT ke-26, “Banten Bergerak, Maju Berdampak”, karena itu dapat dibaca secara lebih mendalam. Pemerintah Provinsi Banten menjelaskan bahwa tema tersebut menekankan gerak pelayanan pemerintahan yang dampaknya dirasakan langsung masyarakat, antara lain melalui pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur (bantenprov.go.id, 25 September 2026).
Kata “bergerak” mengingatkan kita pada Banten lama: kapal bergerak, manusia bergerak, barang bergerak, gagasan bergerak, dan kebudayaan bergerak. Kata “maju” menuntut agar keterhubungan itu menghasilkan peningkatan kualitas kehidupan. Sedangkan “berdampak” mengandung pertanyaan konkret: apakah pembangunan benar-benar dirasakan manusia?
Pertanyaan terakhir inilah yang paling penting. Kemajuan Banten tidak semestinya hanya diukur dari investasi, kawasan industri, jalan, gedung, atau pertumbuhan ekonomi. Kemajuan juga harus terlihat dari kualitas pendidikan, kesehatan, kesempatan kerja, kelestarian lingkungan, kehidupan kebudayaan, serta kemampuan generasi muda menghadapi perubahan zaman.
Sejarah Banten mengajarkan bahwa keterhubungan adalah kekuatan. Karena itu, Banten masa kini perlu membangun jaringan yang menghubungkan pertumbuhan dengan pemerataan, industri dengan masyarakat, teknologi dengan pendidikan, modernitas dengan kebudayaan, serta pembangunan dengan martabat manusia.
Banten pernah menjadi simpul perdagangan Asia. Kini Banten ditantang menjadi simpul pengetahuan, pendidikan, kebudayaan, teknologi, dan ekonomi.
Banten pernah menjadi tempat berbagai kebudayaan berjumpa, seperti perjumpaan lintas etnis, suku, bahasa, dan agama. Kini Banten dapat menjadikan keberagaman sebagai energi untuk membangun masa depan bersama.
Pada HUT ke-26 ini, Banten tidak cukup hanya bergerak lebih cepat. Banten perlu bergerak dengan arah yang tepat, maju secara inklusif, dan memastikan kemajuan itu benar-benar berdampak bagi masyarakat.
Sebab Banten bukan sekadar provinsi yang berusia 26 tahun. Banten adalah warisan panjang tentang keterhubungan manusia.
Dan masa depan Banten akan ditentukan oleh kemampuan kita meneruskan warisan itu dalam bentuk yang baru.
Selamat HUT ke-26 Provinsi Banten.
Banten Bergerak, Maju Berdampak.

Penulis : Pormadi Simbolon, alumnus pascasarjana STF Driyarkara Jakarta, Pembimas Katolik, Kanwil Kemenag Banten.
Editor : Aas Arbi












