24 Ribu Benur Rp6 M Disimpan di Boks Styrofoam

0
1594
Polairud Polda Banten menunjukkan benih lobster saat ekspos pengungkapan kasus penyelundupan benih lobster di Markas Polairud Polda Banten, Pulomerak, Cilegon, kemarin.

Polairud Bekuk Dua Pelaku Penyelundupan

Dua pemuda warga Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, diamankan Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Banten karena membawa 24 ribu benur.

Kedua pemuda itu berinisial M (26) dan CH (20). Mereka ditangkap petugas di Muara Binuangeun-Malingping, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak, Rabu (20/1).

Informasi yang dihimpun, keduanya ditangkap saat membawa ribuan benur menggunakan sepeda motor. Bayi udang lobster itu disimpan di dalam empat boks styrofoam.

“Keduanya diamankan sekira pukul 23.00 WIB oleh petugas,” ujar Wakil Direktur (Wadir) Polairud Polda Banten AKBP Abdul Majid saat menggelar ekspos di Markas Polairud Polda Banten, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, Kamis (21/1).

Benur yang dibawa oleh kedua pemuda itu terdiri dari 18 ribu ekor jenis pasir dan 6 ribu ekor jenis mutiara. Jika dirupiahkan, puluhan ribu benih lobster itu senilai Rp6 miliar.

Rencananya, benur-benur tersebut akan dipasarkan ke sejumlah kabupaten kota di Jawa Barat dan sekitarnya.

Menurut Majid, kedua pelaku diamankan polisi karena diduga tidak memiliki izin sehingga melanggar tindak pidana perikanan.

“Jadi Polri dalam hal ini Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara, sudah bisa menyelamatkan keuangan negara sekitar Rp6 miliar,” ujarnya.

Para pelaku mendapatkan benur tersebut dari para nelayan yang biasa beraktivitas di Muara tersebut. Kemudian, benur-benur dikumpulkan sebelum dibawa ke Jawa Barat.

Setiap ekor benur dibeli dari nelayan dengan harga berkisar puluhan ribu rupiah. Sedangkan nilai ekspor benur tersebut berkisar Rp250 ribu per ekor.

“Untuk nilai jual keluar itu memang sangat mahal sekali, makanya begitu banyak peminatnya untuk bisnis terkait bibit lobster,” jelasnya.

Dengan maraknya kejadian penyelundupan benur, Majid mengaku, telah meningkatkan kegiatan pemantauan di wilayah perairan khususnya di wilayah selatan Provinsi Banten.

“Karena produktivitas dari pada lobster ini adanya di wilayah selatan, Pandeglang dan Lebak,” katanya.

Sampai dengan saat ini, lanjut Majid, pihaknya masih terus melakukan pengembangan dan penyelidikan lebih lanjut terkait dugaan penyelundupan benur yang melibatkan dua pelaku.

“Pengakuannya baru kali ini, tapi kita lihat pengembangan nanti. Sementara baru dua tersangka, nanti mungkin akan dilakukan pengembangan, untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut,” paparnya.

Atas perbuatannya, kedua pelaku dijerat dengan Pasal 92 juncto Pasal 26 Ayat 1, Undang-undang (UU) RI Nomor 45 tahun 2009 tentang perubahan atas UU RI Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan dengan ancaman pidana 8 tahun penjara dan atau denda Rp1,5 miliar.

Sedangkan untuk benih lobster yang telah diamankan, Ditpolairud berencana melakukan penglepasliaran barang bukti benur dengan BKIPM di Pantai Carita, Kabupaten Pandeglang. (bam/alt)