33,4 Persen Anak di Kabupaten Serang Alami Stunting

SERANG – Kasus stunting atau anak tumbuh kerdil di Kabupaten Serang mencapai 33,4 persen, dari 159 ribu bayi usia lima tahun (balita). Penyebabnya, anak kekurangan asupan gizi dari sejak masa kandungan sampai balita.

Hal itu terungkap pada kegiatan sosialisasi 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) dan lomba Balita Indonesia yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Kabupaten Serang di aula Dinkes Kabupaten Serang, Jalan Ki Mas Jong, Kota Serang, Kamis (26/7).

“Hasil penelitian Dinkes Provinsi Banten, penderita stunting di Kabupaten Serang mencapai 33,4 persen. Persentase itu dihitung setelah dilakukan penelitian sampel di beberapa wilayah,” ungkap Kepala Seksi Gizi Masyarakat pada Dinkes Kabupaten Serang Puji Kuntarso selaku panitia lomba.

Kata Puji, stunting disebabkan ibu kekurangan darah saat mengandung, selain kurangnya asupan gizi pada anak yang dilahirkan. Stunting juga, lanjutnya, diakibatkan kekurangan gizi pada masa lalu. “Tapi, bukan berarti turunan,” tegasnya.

Dijelaskan Puji, anak terkena stunting biasanya ukuran tubuhnya tidak sesuai dengan panjang badan menurut umur. “Tubuhnya kelihatan pendek. Kan ada ukuran usia anak per tahun itu idealnya tingginya berapa,” ucapnya.

Di tempat yang sama, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Kabupaten Serang Heni Widhani mengatakan, 1.000 HPK bagi anak sangat menentukan pertumbuhan. Jika asupan gizinya kurang, sangat rawan terkena stunting.

Stunting, dijelaskan Heni, merupakan masalah gizi kronis pada anak yang disebabkan kurangnya asupan gizi dalam waktu cukup lama. Stunting mulai terjadi sejak masa kandungan dan akan nampak pada saat anak berusia dua tahun. Kelainan akan berpengaruh pada ukuran tubuh yang lebih kecil dari kebanyakan anak seusianya.

“Jumlah balita mencapai 159 ribu. Tapi, 33,4 persen itu (penderita stunting-red) berdasarkan hasil penelitian dari hasil sampel,” terangnya.

Lantaran itu, Heni mengimbau agar ibu hamil dapat mengonsumsi makanan bergizi. Karena, kandungan gizi yang dikonsumsi oleh ibu mengandung akan berdampak pada pertumbuhan anak. “Kalau gizinya baik, anaknya juga akan baik,” ujarnya

Menurut Heni, stunting dapat menghambat pertumbuhan dan memengaruhi pertumbuhan otak anak. Oleh karena itu, pihaknya terus menyosialisasikan kepada masyarakat agar dapat mencukupi kebutuhan gizi di 1.000 HPK. Hal itu agar pertumbuhan anak bisa normal dan tidak terkena stunting. “Acara ini salah satu upaya sosialisasi kami setiap tahunnya. Bulan depan akan diselenggarakan tingkat provinsi. Tujuannya, untuk menekan angka stunting,” pungkasnya. (Rozak/RBG)